JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR – Ketua Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Kabupaten Cianjur, Tela Mutia, menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi memilukan yang menimpa seorang anak berusia 9 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Anak tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena keterbatasan ekonomi keluarga yang membuatnya tak mampu membeli buku dan pena.
Tela menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kabar duka biasa, melainkan sebuah "alarm keras" bagi nurani bangsa.
Menurutnya, sangat ironis ketika di usia yang seharusnya penuh mimpi, seorang anak justru kehilangan harapan akibat kemiskinan dan ketimpangan akses pendidikan.
Lebih lanjut dia menilai tragedi ini merupakan bukti nyata bahwa hak dasar anak atas pendidikan belum sepenuhnya dijamin secara adil dan merata oleh negara.
"Pendidikan yang sering digaungkan sebagai program gratis, pada kenyataannya masih menyisakan beban biaya yang tidak mampu dipikul oleh keluarga rentan. Ini bukan kegagalan anak atau keluarganya, melainkan kegagalan sistemik yang menandakan belum hadirnya negara secara utuh bagi rakyat kecil," ujar Tela dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/2/2026).
Atas dasar tersebut, Tela menyampaikan kritik tajam kepada pemerintah pusat maupun daerah agar tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit di lapangan. Ia mendesak agar program pendidikan tidak hanya berhenti pada slogan semata.
"Negara wajib memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam mengakses pendidikan yang layak dan manusiawi. Jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan harapan bahkan nyawa hanya karena keterbatasan ekonomi," tegasnya.
KOPRI Kabupaten Cianjur berharap peristiwa memilukan di NTT ini dapat menjadi titik balik bagi perbaikan kebijakan pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia.
Lebih jauh Tela mendorong pemerintah untuk segera memperkuat jaring pengaman sosial bagi keluarga miskin dan rentan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Selain itu, kemudian dalam hal ini dirinya juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan solidaritas dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
"Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Kepergiannya harus menjadi pengingat abadi bahwa setiap anak berhak hidup, belajar, dan bermimpi tanpa harus dibatasi oleh jeratan kemiskinan," pungkasnya.