daerah

Sekapur Sirih 7 Hari Wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri

Minggu, 22 Juni 2025 | 17:12 WIB

Ibu Sepuh, Istri Buya KH. Dadun Sanusi – Pesantren Sunanulhuda, Cikaroya, Sukabumi

Journalnusantara com, Sukabumi – Tahlilan 7 hari wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri, yang akrab disapa “Ibu Sepuh”, akan dilangsungkan pada Senin malam Selasa, 23 Juni 2025 pukul 18.30 WIB di Pondok Pesantren Sunanulhuda – Cikaroya, Sukabumi.

Tradisi tahlilan ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus penghantaran doa kepada almarhumah, sebagaimana warisan para ulama salaf yang telah mengakar kuat dalam tradisi Islam Nusantara.

Tradisi yang Bersumber dari Dalil dan Cinta

Tahlilan merupakan bagian dari bentuk sedekah dan doa untuk orang yang telah wafat. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (XXIV/314-315) menyatakan bahwa mayit memperoleh manfaat dari amal orang lain, sebagaimana dalam hadis sahabat Sa’ad bin Ubadah yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sedekah untuk ibunya yang telah wafat, dan Nabi SAW menjawab: “Ya, bermanfaat.”

“Begitu juga bermanfaat bagi mayit: haji, qurban, memerdekakan budak, doa, dan istighfar kepadanya, yang ini tanpa perselisihan di antara para imam,” tulis Ibnu Taimiyah.

Beliau pun menambahkan bahwa pahala ibadah seperti shalat, puasa, dan bacaan Al-Qur’an yang dihadiahkan kepada mayit diperbolehkan dan memberi manfaat bagi ruh mereka (Majmu’ al-Fatawa, XXIV/322).

Biografi Singkat Ibu Sepuh

Hj. Euis Nurlaila adalah puteri pertama dari pasangan KH. Idam Damiri bin H. Mohamad Faqih dan Hj. Mun Yunarni binti H. Yunus. Ia merupakan istri dari Buya KH. Dadun Sanusi, pendiri Yayasan Sunanulhuda – Cikaroya, Sukabumi.

Lahir di Sukabumi, 9 September 1949, almarhumah wafat dalam usia 74 tahun pada Senin, 16 Juni 2025, saat waktu Maghrib di Pondok Pesantren Sunanulhuda.

Pernikahan beliau dan Buya terjadi pada tahun 1964, saat Ibu Sepuh berusia 15 tahun dan Buya 23 tahun. Perkenalan mereka bermula dari saran Mualim Jejen, seorang tokoh di Jl. Cagak Cibaraja, Sukabumi, yang menyebut Ibu Sepuh sebagai gadis “ramah, lugu, dan cantik rupawan.”

Pengabdian dan Perjuangan Bersama Buya

Selama lebih dari 40 tahun, Ibu Sepuh mendampingi perjuangan Buya KH. Dadun Sanusi dalam mengelola pesantren dan membina ribuan santri. Sejak wafatnya Buya pada tahun 2004, Ibu Sepuh tetap aktif mengajar Al-Qur’an kepada santriwati dan anak-anak di sekitar kampung. Beliau dikenal masyarakat luas sebagai sosok yang dermawan dan ringan tangan, serta rajin bersedekah kepada yang membutuhkan.

Halaman:

Tags

Terkini