Oleh: Nanang Gojali
Gempa Bumi dahsyat melanda Turki dekat perbatasan Suriah pada Senin pagi, 6 Februari 2023, dengan magnitudo 7,8 Skala Richter (SR).
Salah satu gempa susulan bahkan mempunyai kekuatan hampir sama besarnya, yaitu 7,5 SR. Gempa ini terasa sampai ke Italia, Lebanon, dan beberapa negara Eropa.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI menyebut fenomena Tectonic Escape sebagai penyebab gempa Turki itu.
Fenomena Tectonic Escape pada gempa Turki terjadi saat Lempeng Anatolia bergeser ke barat. Lempeng Arab menekan Lempeng Anatolia ke arah barat laut dalam dinamika tektoniknya", tulis BMKG dalam Instagram @infobmkg, Rabu 8/2/2023. Gempa bumi Turki disebut-sebut merupakan gempa yang paling mematikan di abad ini.
Perkembangan terkini sampai dengan Minggu siang 12/02/23, jumlah korban tewas mencapai lebih dari 28.000 orang. Namun pencarian korban gempa dihentikan Sabtu, (11/2/23), karena adanya bentrokan antar kelompok yang tidak diketahui.
Disebutkan, kondisi keamanan diperkirakan akan memburuk karena persediaan makanan berkurang. Menurut media lokal, hampir 50 orang telah ditangkap akibat penjarahan, dan beberapa senjata sudah disita pihak berwajib.
Namun jika kita klik YouTube atau Google dengan kata kunci "Penyebab Gempa Turki", akan muncul banyak video dan artikel yang menganalisis faktor utama penyebab gempa Turki (dan Suriah).
Baca Juga: Diduga Jalan Licin, Bus Pariwisata Membawa Siswa SMPN 3 Garut Terlibat Kecelakaan di Purworejo
Bagi para pembelajar sepanjang hayat yang serius, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi ini sangat memudahkan dalam pengayaan sumber belajar menjadi sangat berlimpah dengan tema dan volume yang bisa dikatakan tidak terbatas, termasuk tentang gempa Turki. Di antara kelebihan yang diberikan kemajuan dalam teknologi internet saat ini, siapa pun bisa mengakses update apa yang terjadi pasca gempa Turki secara mudah, murah dan cepat.
Merujuk kepada berbagai sumber tersebut, bisa disimpulkan ada tiga teori besar tentang faktor utama penyebab gempa Turki, yaitu: Teori Pergeseran Lempeng Bumi, Teori Konjungsi Planet, dan Teori Rekayasa atau Teori Konspirasi.
Berbeda dengan "Teori Resmi" Pergerakan Lempengan Bumi seperti yang dikemukakan BMKG di atas, Teori Konjungsi Planet yang diusung oleh Frank Hoogerbeets, menyebutkan bahwa gempa Turki terjadi karena faktor konjungsi planet. Nama Frank Hoogerbeets, menjadi viral setelah postingan Twitternya tiga hari sebelum Gempa Turki, dimana ia memprediksi Gempa besar akan melanda Turki.
Frank adalah seorang peneliti dari Solar System Geometry Survey (SSGEOS) yang berbasis di Belanda. Ia mengunggah beberapa postingan dalam akun Twitternya, @hogrbe, tiga hari sebelum gempa Turki.
"Hati saya tertuju pada semua orang yang terkena dampak gempa bumi besar di Turki Tengah. Seperti yang saya nyatakan sebelumnya, cepat atau lambat ini akan terjadi di wilayah ini, mirip dengan tahun 115 dan 526. Gempa bumi ini selalu didahului oleh geometri planet yang kritis, seperti yang kita alami pada 4-5 Februari," katanya, Senin 6 Februari 2023, di hari ketika gempa besar Turki itu terjadi.”
Artikel Terkait
Real Madrid Sabet Gelar Piala Dunia Antar Klub 2022
Keren dan Tak Biasa, Komunitas Coffee Gelar Melukis dengan Media Kopi
Pelajar NU Antusias Ikuti Lakmud III PAC IPNU-IPPNU Ciranjang Cianjur
Silmi Septiani Ungkap Cara Membagi Waktu Antara Kuliah, Organisasi, Bisnis, dan Hobi
Pesawat Lion Air Jakarta-Bengkulu Mendarat Darurat di Palembang
Abad Banser
Launching Jaringan Pemred Promedia 'Leader's Vision Menuju Indonesia Emas 2045'
Diduga Jalan Licin, Bus Pariwisata Membawa Siswa SMPN 3 Garut Terlibat Kecelakaan di Purworejo
Waduh...Ferdy Sambo Divonis Hukuman Mati, Apa Langkah Hukum Selanjutnya ?
Aje Gile...Lulus SMP Langsung Nikah, Warganet: Nafsu Doang Lu, Laper Balik Rumah Masing-masing !