Kami pun meninggalkan Sidoarjo tanpa mampir stadion. Toh acara sudah selesai. Toh saya sudah bisa mengikuti seluruh acara lewat HP. Memang layar HP itu kecil sekali. Atraksi Banser yang paling saya tunggu tidak tergambar terlalu jelas.
Yang terdengar sangat jelas adalah pidato ketua panitia satu abad NU: Menteri BUMN Erick Thohir. Dengan baju Bansernya.
Ia memang anggota Banser. Anggota beneran. Banser besertifikat. Bagi saya yang paling menarik adalah bagian akhir pidatonya: satu kalimat itu. Yang Anda juga pasti mengingat kalimat itu dan memperhatikan.
Tentu saya juga memperhatikan Ibu Megawati Sukarnoputri. Yang wajahnya sering tampil di layar. Yang kali ini, tumben, tidak pakai kerudung sama sekali.
Saya tidak bisa menebak makna ekspresi wajah Ibu Megawati Sukarnoputri kemarin pagi. Yakni saat beliau menyaksikan 12.000 personil Banser in action di stadion itu.
Baca Juga: Pelajar NU Antusias Ikuti Lakmud III PAC IPNU-IPPNU Ciranjang Cianjur
Ibu Mega, sebagai ketua umum PDI Perjuangan juga dikenal punya pasukan Merah-Hitam. Yang juga disebut Satgas Banteng. Saya pun berdoa di dalam hati: semoga Banser in action ini tidak menggerakkan hati Ibu Mega untuk juga mengadakan apel besar Satgas Banteng. Toh belum ada momentum 100 tahun.
Atraksi Banser memang terlihat sangat dominan di acara puncak satu abad NU ini. Mungkin penampilan Banser inilah yang paling diingat dari Satu Abad NU.
Urutan kedua: sosok yang membaca Alquran di awal acara. Bacaannya, lagunya dan kemerduan suaranya hebat sekali: Sayyid Zulfikar Basyaiban. Orang Sidoarjo.
Stadion ini terlalu kecil untuk perhelatan begitu besar. Kalau hanya dilihat di dalam stadion kesannya: kurang massal. Tribun keliling itu terlihat tidak banyak orang. Padahal sudah terisi penuh. Seandainya antara tribun dan pasukan Banser itu dibolehkan diisi 10.000 Nahdliyin kesan massalnya akan kuat.
Baca Juga: Keren dan Tak Biasa, Komunitas Coffee Gelar Melukis dengan Media Kopi
Padahal di luar stadion itu setidaknya ada 1 juta orang. Warga Nahdliyin dari segala penjuru. Mereka tidak terjangkau oleh kamera di dalam stadion. Untung kamera juga tidak bisa menjangkau banyaknya sampah yang berserakan.
Presiden Jokowi menyampaikan pidato yang pendek. Mungkin Pak Jokowi ikut merasakan matahari sudah kian menyengat. Tentu saya juga menunggu acara paling penting di mata saya: Fikih Peradaban. Yakni laporan hasil Muktamar I Fikih Peradaban (lihat Disway 4 Februari 2023).
Ternyata hasil Muktamar itu dibacakan oleh dua orang: kiai cum penyair KH Mustofa Bisri dan Yenny Wahid. Kiai Mustofa Bisri membacakan versi bahasa Arabnya, Mbak Yenny membaca versi bahasa Indonesia.
Cara penyampaian seperti itu rasanya karena PBNU ingin hasil Muktamar Fikih Peradaban itu harus dipahami juga oleh dunia Islam di Timur Tengah.
Artikel Terkait
Dwi Nur Wahyuningrum, Duta Anti Narkoba Lumajang 2021
Gita Savitri Membahas Childfree Akan Membuat Awet Muda
Serba Serbi 1 Abad NU, PCNU Cianjur Disambut Hangat Warga Sidoarjo
Hemat Biaya dan Waktu, DPR RI Usul Ibadah Haji Dipangkas Jadi 30 Hari
Resmi, Lisensi Ajang Pemilihan Puteri Indonesia Berganti Nama
Real Madrid Sabet Gelar Piala Dunia Antar Klub 2022
Keren dan Tak Biasa, Komunitas Coffee Gelar Melukis dengan Media Kopi
Pelajar NU Antusias Ikuti Lakmud III PAC IPNU-IPPNU Ciranjang Cianjur
Silmi Septiani Ungkap Cara Membagi Waktu Antara Kuliah, Organisasi, Bisnis, dan Hobi
Pesawat Lion Air Jakarta-Bengkulu Mendarat Darurat di Palembang