Keragaman dalam Kesatuan, Perekat Kebhinekaan di Negeri Kepulauan

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Rabu, 23 November 2022 | 20:55 WIB
Hidup di negeri khatulistiwa, kaya akan SDM dan SDA nan melimpah. Kebhinekaan perekat persatuan bangsa.  (pixabay)
Hidup di negeri khatulistiwa, kaya akan SDM dan SDA nan melimpah. Kebhinekaan perekat persatuan bangsa. (pixabay)


JournalNusantara.com - Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bagi bangsa Indonesia yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beribu-ribu pulau dimana setiap daerah memiliki adat istiadat, bahasa, aturan, kebiasaan, dan lain-lain yang berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Negeri inipun memiliki ratusan bahkan lebih suku bangsa yang ada di bumi Indonesia. Dari suku-suku ini kemudian terbentuk suatu ragam budaya yang berbeda antar satu sama lain.

Tanpa adanya kesadaran sikap untuk menjaga Bhinneka Tunggal Ika, pastinya akan
terjadi berbagai kekacauan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri atau daerahnya sendiri tanpa peduli kepentingan bersama.

Baca Juga: Hadapi Tahun Politik 2024, Tingkatkan Pendidikan Politik Rakyat !

Bila hal tersebut terjadi pastinya negara kita ini akan terpecah belah. Akhir-akhir ini, sungguh banyak sekali kasus-kasus yang telah mencemari istilah Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini sudah kita tanam sejak dulu.

Saya ambil contohnya dalam kebudayaan saat ini yang dimana telah di deskripsikan diatas bahwa Indonesia memiliki budaya yang sangat kaya namun, berapa banyak budaya yang bisa kita sebutkan dari sedemikian banyaknya budaya yang dimiliki Indonesia? Mungkin jawaban kita hanya bisa dihitung dengan jari. Ironis memang.

Tapi inilah kenyataan yang ada. Kita, penerus generasi bangsa, seakan cuek terhadap budaya kita sendiri. Kita harus melestarikannya. Tapi mengapa malah tak peduli dan mengabaikannya?

Di era globalisasi ini budaya-budaya barat sangat mudah masuk ke Indonesia. Budaya ini
tumbuh dan berkembang dengan pesat di Indonesia. Kita selaku generasi muda, lebih menyukai akan budaya ini ketimbang budaya asli kita.

Baca Juga: Banyak Lokasi Belum Tersentuh, GUSDURian Peduli Ajak Orang Baik Bantu Korban Gempa Cianjur

Kita merasa lebih PD dan merasa lebih gaul jika meniru budaya barat. Kasus lain adalah masalah tentang pengakuan budaya kita oleh Malaysia.

Tentu kita geram akan negara tetangga yang dengan seenaknya mengklaim budaya-budaya kita seperti reog ponorogo, tari pendet, batik, lagu sayange, dan lain-lain. Ini merupakan tamparan keras bagi kita semua, rakyat Indonesia khususnya para generasi muda.

Kita tidak bisa serta merta menyalahkan Malaysia yang telah mengklaim budaya kita. Kita sebagai rakyat Indonesia juga harus sadar akan kesalahan kita.

Kita harus intropeksi diri kita. Berapa banyak dari kita yang sebelumya peduli pada budaya asli Indonesia sebelum kejadian seperti ini? Untuk itu marilah kita sama-sama merenungkan dalam hati kita masing-masing.

Jika memang wayang kulit salah satu budaya yang kita miliki mengapa harus malu untuk
menontonnya? Jika memang batik itu juga bagian dari budaya kita, mengapa merasa malu
memakainya? Sudah seharusnya, kita bangga akan budaya kita sendiri. Karena bangBaca Juga: Memaknai Kembali Bhineka Tunggal Ika dalam Jiwa Muda Indonesia

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X