“Siapa saja yang memperbanyak shalat di malam hari, maka wajahnya akan tampak indah pada siang hari.”
Sebagian ulama mentafsil makna hasan dalam Hadits tersebut adalah cahaya yang menyala di dalam hati, wajah yang tampak bersinar, keluasan rizki, dan hatinya selalu mencintai rasa kemanusiaan.
Para mufasir klasik hingga kontemporer sepakat bahwa bekas sujud yang dikehendaki bukan berupa jidat yang tampak hitam. At-Thabari sedikit berhumor dengan menyatakan, bisa saja tampak kehitaman atau kekuningan karena disebabkan kelelahan. Namun astar yang dikehendaki bukan semacam itu. Atsar yang dikehendaki bersifat immaterial, yang dapat terjadi di dunia maupun di Akhirat.
Wajahnya tampak bersinar namun tetap khusyu’. Diikuti dengan akhlak yang mulia karena hati yang selalu takwa.
Baca Juga: Gempa Tukri, Bintang Sepakbola Dunia Mohamed Salah dan Luka Modric Ucapkan Bela Sungkawa
Pendapat kalangan mufassir kontemporer juga sama, seperti pada Kitab "Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir", Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, Mudarris Tafsir Universitas Islam Madinah, dalam tafsirweb.com, bahwa yang dimaksud dengan kalimat:
سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ
bahwa "tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud", yang dimaksud adalah wajah yang terlihat berseri-seri dan teduh serta menampakkan cahaya.
Semoga kita bisa meneladani Rasulullah dan para sahabat, dianugerahkan kenikmatan bersujud yang beratsar pada kesalehan ritual dan sosial.