Bangun Resiliensi Informasi di Era AI
Suswinda juga mengingatkan bahwa tantangan komunikasi digital ke depan tidak hanya berkaitan dengan cepatnya penyebaran informasi, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam membangun information resilience atau resiliensi informasi.
Karena itu, ia menilai kebijakan pemerintah dalam menangkal hoaks perlu diiringi dengan penguatan budaya komunikasi yang etis, dialogis, dan berbasis fakta.
"Ke depan, tantangan komunikasi digital tidak hanya berkaitan dengan kecepatan penyebaran informasi, tetapi juga kemampuan membangun resiliensi informasi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah perlu diimbangi dengan penguatan budaya komunikasi yang etis, dialogis, dan berbasis fakta sehingga ruang digital Indonesia tidak hanya bebas dari hoaks, tetapi juga menjadi ruang publik yang sehat, inklusif, dan mendukung demokrasi," pungkasnya.
Baca Juga: Selain Tembakan di Kepala, Tubuh Winda Lorenza Punya Luka Memar hingga Goresan
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus memperkuat berbagai strategi untuk menekan penyebaran hoaks dan disinformasi.
Langkah tersebut meliputi patroli siber, penguatan moderasi konten bersama platform digital, pengawasan terhadap penyalahgunaan teknologi AI dan deepfake, serta mendorong partisipasi masyarakat melalui kanal pelaporan resmi.
Berbagai langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang aman, kredibel, dan mampu menjaga kualitas ruang digital Indonesia.*