Oleh: Zidan Fathur Rahman
Dalam politik, yang paling sering diperdebatkan bukanlah siapa yang paling mampu, melainkan siapa yang dianggap paling pantas.
Ironisnya, ukuran kepantasan itu masih terlalu sering diikat oleh usia, bukan kapasitas. Seolah-olah kepemimpinan harus menunggu rambut memutih, padahal perubahan zaman tidak pernah menunggu siapa pun.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, keberanian mempercayai generasi baru menjadi penentu apakah sebuah organisasi akan tetap relevan atau perlahan ditinggalkan oleh sejarahnya sendiri.
Regenerasi selalu menjadi janji yang paling sering diucapkan dalam politik, tetapi paling sulit diwujudkan. Hampir setiap pergantian kepemimpinan dipenuhi seruan memberi ruang kepada generasi muda.
Namun ketika keputusan harus diambil, keberanian itu kerap menguap. Senioritas masih diposisikan sebagai ukuran utama, sementara kapasitas sering menjadi pertimbangan kedua.
Padahal, politik modern membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan sosial, memahami perkembangan teknologi, serta menjangkau aspirasi generasi yang akan menentukan masa depan.
Musyawarah Daerah Partai Golkar Cianjur menjadi momentum untuk menjawab dilema tersebut. Musda bukan sekadar forum memilih ketua baru, melainkan kesempatan menentukan arah perjalanan organisasi.
Yang dipilih bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga cara pandang partai terhadap masa depannya. Apakah regenerasi benar-benar akan diwujudkan, atau kembali menjadi jargon yang berhenti di atas mimbar?
Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang adaptif, muncul sosok yang perlahan menjadi perhatian banyak kader. Bukan sekadar karena muda, melainkan karena rekam jejaknya menunjukkan bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk memikul tanggung jawab besar. Di titik inilah nama Isfhan Taufik Munggaran menjadi relevan untuk diperbincangkan.
Lahir pada 30 Oktober 1994, Isfhan dipercaya menjadi Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Dapil Jabar III yang meliputi Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor.
Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Sebelum duduk di Senayan, ia melalui proses kaderisasi dan pengabdian yang panjang, mulai dari Badan Saksi Nasional Golkar Cianjur, Wakil Ketua Bidang Hubungan Lembaga Politik DPD Golkar Cianjur, Ketua BAPERA Cianjur, hingga Ketua Dewan Pertimbangan BM Kosgoro 1957 Jabar.
Jejak tersebut memperlihatkan konsistensi membangun organisasi sekaligus memahami kebutuhan masyarakat dari akar rumput.
Yang membuat Isfhan layak diperhitungkan bukan semata karena usianya yang muda, melainkan kemampuannya memadukan pembaruan dengan pengalaman organisasi.