Oleh: Munawir Kamaluddin
Pernahkah kita berhenti sejenak, menutup mata, lalu bertanya kepada diri sendiri: apakah aku benar-benar hidup sesuai pilihan nurani, ataukah sekadar menjadi bidak yang digerakkan oleh sistem dan kekuasaan?
Pernahkah kita merasa bahwa suara hati hanyalah gema di ruang kosong, tak terdengar oleh dunia yang sibuk dengan aturan-aturan dan kepentingan yang lebih sering membelenggu daripada membebaskan?
Mengapa banyak di antara kita memilih bertahan di jalan aman—meski sempit dan sesak—daripada berani menembus dinding keterbatasan menuju luasnya cakrawala kebebasan?
Bukankah Allah menciptakan manusia untuk berpikir, memilih, dan menentukan jalan hidupnya dengan merdeka, bukan sekadar mengikuti arus tanpa arah?
Apakah kita rela kebebasan itu ternodai oleh egoisme pribadi yang menempatkan kepentingan diri di atas kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan?
Tidakkah kita khawatir bahwa tanpa sadar kita sedang menjadi “katak dalam tempurung”: merasa cukup dengan ruang sempit, padahal di luar sana terbentang samudera pengetahuan, kolaborasi, dan kehidupan yang lebih bermakna?
Kebebasan sejatinya adalah anugerah agung dari Allah. Namun, kebebasan bukanlah kebebasan liar tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai adab, nilai, dan tanggung jawab. Bila kebebasan dikecilkan, ia berubah menjadi tempurung yang menutup pandangan.
Maka manusia pun menjadi seperti katak yang hanya mengenal ruang kecilnya, puas dengan semesta sempit yang ia kira luas, dan buta terhadap dunia yang lebih lapang.
Allah SWT berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Atau apakah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Bukankah kunci yang menutup hati itu sama dengan tempurung yang membatasi pandangan?
Rasulullah SAW. pun mengingatkan:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).