Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untuk diadili.
“Benarkah dari dalam topimu bisa terlihat surga dan bidadari?” tanya Raja.
Abu Nawas menjawab:
“Benar, Paduka. Tetapi hanya orang yang benar-benar beriman yang bisa melihatnya. Jika Paduka ingin menyaksikannya, silakan.”
Raja pun mencoba melihat. Tentu saja ia tidak melihat apa-apa. Tapi ia tahu, jika mengakui hal itu, berarti secara tidak langsung ia mengaku belum beriman. Hal ini tentu bisa mencoreng wibawanya sebagai Raja.
Maka Raja pun berseru:
“Engkau benar, Abu Nawas! Aku melihat surga dan para bidadari di dalam topimu!”
Rakyat yang menyaksikan pernyataan Raja pun terdiam. Tidak ada yang berani membantah Abu Nawas lagi, karena takut dicap belum beriman.
Konspirasi kebohongan yang ditebar Abu Nawas kini telah mendapat legitimasi dari Raja.
Abu Nawas hanya tertawa sinis dan bergumam:
"Beginilah jadinya jika ketakutan telah mengalahkan kejujuran. Kebohongan pun akan merajalela. Orang takut berkata jujur karena gengsi takut dianggap belum beriman, atau karena alasan lain yang dikemas dalam opini yang penuh kepalsuan."
Apakah “legitimasi kebohongan” seperti kisah ini pernah atau sedang kita alami di negeri kita?
Mari kita renungkan.