Di tengah keramaian, Abu Nawas tiba-tiba melihat ke dalam topinya, lalu tersenyum bahagia. Orang-orang di sekitarnya heran dan bertanya:
“Wahai Abu Nawas, apa yang kau lihat di dalam topimu hingga membuatmu tersenyum seperti itu?”
Dengan yakin, Abu Nawas menjawab:
“Aku sedang melihat surga, dihiasi barisan bidadari.”
Seseorang yang penasaran lantas meminta:
“Boleh aku lihat?”
Abu Nawas menjawab tenang:
“Silakan. Tapi aku tidak yakin kau akan melihat apa yang kulihat.”
“Mengapa begitu?” tanya orang-orang serempak, penasaran.
“Karena hanya orang yang benar-benar beriman dan sholeh yang bisa melihat surga beserta bidadarinya di dalam topi ini,” jawab Abu Nawas dengan serius.
Seseorang mendekat dan mencoba melihat ke dalam topi. Setelah sejenak menatap, ia menoleh ke arah kerumunan dan berkata lantang:
“Benar! Aku melihat surga dan para bidadari!”
Orang-orang pun heboh. Mereka berlomba-lomba ingin menyaksikan “keajaiban” dalam topi Abu Nawas. Namun, Abu Nawas selalu memperingatkan bahwa hanya yang beriman yang bisa melihatnya.
Dari banyaknya yang mencoba melihat, sebagian besar mengaku melihat surga dan bidadari. Hanya segelintir yang jujur mengatakan bahwa mereka tak melihat apa-apa. Kelompok kecil ini menyimpulkan bahwa Abu Nawas telah menyebarkan kebohongan, dan melaporkannya ke Raja.