opini

Pelajar Bukan Produk Pabrik Juga Bukan Prajurit Perang

Senin, 2 Juni 2025 | 06:03 WIB
Para pelajar Purwakarta yang mengikuti pendidikan di Barak Militer pada gelombang pertama.


Oleh: Agung Wibawanto

Entah ingin mengacu ke negara mana Dedi Mulyadi (KDM) menerapkan kebijakan untuk pelajar di Jawa Barat. Selama ini, negara-negara yang dikenal baik pola pendidikannya adalah Finlandia (negara-negara Nordik), Belanda, Jepang, China ataupun India. Tidak ada yang menerapkan kebijakan seperti yang dibuat KDM.

Tidak ada sekolah yang dimulai terlalu pagi jam 6, tidak ada pula jam malam (pkl. 21.00), serta tidak ada model hukuman dikirim ke barak militer (kecuali negara komunis seperti Korut). Jika ditanya tujuannya, pasti KDM akan bercerita soal harapan yang tinggi agar pelajar kualitas SDM dan karakternya semakin baik.

Itu kajian dari mana? Ada contoh yang sudah terlihat hasilnya baik di mana? Bahkan pendidikan di Purwakarta, yang dulu KDM pernah praktikkan sekolah jam 6 pagi, masih kalah dengan pendidikan di daerah lain seperti: Malang, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, Denpasar, Bandung, dll.

Bahkan, daerah kecil seperti Samosir (P. Samosir, Danau Toba, Sumatera Utara), dianggap memiliki sistem kelola belajar mengajar terbaik di Indonesia. Persoalan pendidikan memang kompleks ataupun banyak faktor yang mempengaruhi terkait kualitas hasil pendidikan.

Salah satu yang sangat ditekankan dan diutamakan di Samosir untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan menyediakan guru-guru terbaik. Mereka (stakeholder), beranggapan, dari guru yang baik maka akan lahir siswa-siswa yang baik pula. Kriteria guru yang baik adalah: kompeten, berwawasan, kreatif, inovatif, dan humanis.

Sekali lagi, guru yang baik memang bukan satu-satunya faktor terkait pendidikan, tapi setidaknya sudah teruji pula seperti di Finlandia. Di Finlandia, pemerintah merekrut guru-guru dengan kualitas terbaik bergelar master di bidang pendidikan. Namun pemerintah tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan pendidikan dan cara belajarnya.

Intinya, negara seperti Finlandia, tidak menjadikan sekolah sebagai gedung bertembok mencetak produk seperti pabrik. Terlebih, bukan pula sebagai penjara. Di mana siswa harus patuh pada guru dan guru patuh kepada kepala sekolah. Terakhir, kepala sekolah tunduk pada pemerintah. Sekolah adalah ruang terbuka untuk melatih berpikir, bergerak (fisik) serta berkreativitas.

Anak usia sekolah adalah manusia ibaratnya masih dalam pertumbuhan baik fisik, otak juga mentalnya. Dari itu, manusia pada tahap itu tidak bisa didoktrin dengan aturan larangan yang keras yang tidak mereka pahami kegunaannya. Ini jika kita tidak ingin anak-anak itu menjadi robot. Siswa bukan robot juga bukan alat perang seperti prajurit anggota militer.

Militer juga memiliki sistem pendidikan sendiri yang khusus dan tidak sama dengan pendidikan kalangan sipil. Sehingga tidak tepat jika barak dijadikan area atau tempat penghukuman bagi anak-anak nakal (bermasalah). Mengapa dinas sosial tidak mengelola semacam lembaga kreatif anak yang bisa mendidik dan melatih anak nakal menjadi kreatif?

Jam malam juga hanya akan mengekang kreativitas anak. Apa salahnya anak-anak beraktivitas lebih dari jam 9 malam sepanjang dipastikan aman dan untuk sesuatu yang positif? Terjadinya potensi kenakalan anak di saat malam juga tidak terlepas dari kurangnya penyediaan ruang bagi mereka dalam berekspresi, hingga dilampiaskan pada kelompok atau genk.

Dalam ilmu psikologi anak, disebabkan fase yang disebutkan tadi, logika dan mental mereka masih labil. Masih mencari identitas diri mau menjalani hidup dengan mode apa? Anak mode cupu, alim, cool, rumahan, suka usil, kreatif, dandanan, atau apa? Jiwa mereka cenderung berontak terhadap larangan yang justru itu artinya tantangan untuk dilanggar.

Narasi ini hanya menyampaikan beberapa pandangan yang silahkan saja diterima ataupun dibantah. Toh penulis bukanlah pembuat kebijakan. Namun saya adalah pemerhati pendidikan dan memiliki concern yang dalam terkait perkembangan anak-anak usia sekolah. Ini juga merupakan amanah konstitusi, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tags

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB