Namun, jika dua hal tersebut terbukti, dipastikan ia akan kalah telak oleh kompetitor. Terburuk diakhir masa jabatan tidak mustihal calon petahana akan digeret oleh lembaga peradilan atas penyimpangan kekuasaan yang ia lakukan selama menjabat dulu, dan penjarapun menjadi persinggahan berikutnya, singgasana kekuasaan hanya tinggal kenangan nan memilukan.
Muncul dibenak rakyat dan pemerhati sosial politik Cianjur beragam pertanyaan, mengapa Herman Suherman memilih Ibang bukan yang lain ?, siapa sosok Ibang sebenarnya?, apa peran Ibang dalam circle birokrasi Pemda Cianjur selama ini?, kenapa tidak Susilawati Ketua DPC PDIP yang menjadi calon Wakil Bupati?, apa relasi sesungguhnya antara Herman dengan Ibang?, mengapa terkesan tergesa-gesa melakukan deklarasi Parpol pendukung dan pengusung?, lantas apakah koalisi 5 Parpol di Hotel Amen cukup memberikan garansi kemenangan, dimana DPP Parpol yang bersangkutan belum memberikan rekomendasi penuh atas ijtihad politik Parpol ditingkatan lokal ini?.
Sekian banyak pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang akurat agar tidak menjadi wacana liar yang berpotensi mendegradasi elektabilitas Herman Suherman selaku Kontestan pada November nanti. Sosok Ibang dalam lingkar kepentingan Parpol koalisi layaknya dua sisi mata pedang yang sama tajam, peluang mendongkrak suara dalam ceruk besar pemilih yang berakhir dengan kemenangan atau justru sebaliknya menjadi sandungan atas ekspektasi politik yang telah dirumuskan dan berakhir dengan kekalahan. (Bersambung).
Disarikan dari berbagai sumber.
Penulis adalah pemerhati sosial politik dan kini bergiat sebagai "Budak Angon" di Pesantren Kehidupan Kyai Naga Sari.