"Wahabi KW" dan "Wahabi Ori"

photo author
Abdul Qodir Majid, Journal Nusantara
- Sabtu, 5 Agustus 2023 | 10:35 WIB
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah jelaskan perbedaan Salafi Wahabi dan Muhammadiyah - Adawarta.com (Foto: tangkap layar youtube/mojok.co)
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah jelaskan perbedaan Salafi Wahabi dan Muhammadiyah - Adawarta.com (Foto: tangkap layar youtube/mojok.co)

Oleh : Prof. Sumanto AlQurtubi (Dosen Antropologi di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi)

Salah satu fenomena sosial yang saya perhatikan beberapa tahun terakhir ini adalah munculnya sejumlah kelompok Islam yang saya sebut sebagai "Wahabi KW",
Yaitu sekelompok kaum Muslim di Indonesia yang berdandan, berpikiran, dan berperilaku "mengimajinasikan" diri sebagai "Wahabi".

"Wahabi" ini adalah sebuah "sekte keislaman" minoritas tapi berkuasa karena "ngupil" dengan kekuasaan (pemerintah),
Hususnya di Saudi dan Qatar. Nama "Wahabi" ini dinisbatkan kepada pendirinya,
Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang reformis-puritan dari Najd, Arabia, pada abad ke-18, meskipun sebetulnya para pengikut Wahabi sendiri jarang atau bahkan tidak pernah menyebut diri mereka sebagai "Wahabi".

Menariknya, para cheerleaders Wahabi di Indonesia atau "Wahabi KW" tadi cukup berbeda secara signifikan dengan para "Wahabi Ori" atau "Wahabi asli" di Saudi maupun Qatar yang saya amati.

Baca Juga: Andi Malaranggeng Menilai Gugatan Persyaratan Batas Usia Cawapres Upaya Langgengkan Kekuasaan

Para "Wahabi KW" ini saya lihat jauh lebih militan, konservatif, tertutup, puritan, intoleran, dan bahkan lebih norak, urakan dan tak tahu diri.

Dengan kata lain, para "Wahabi KW" ini jauh lebih "Wahabi" ketimbang kaum "Wahabi Ori" itu sendiri.

Misalnya saja, para "Wahabi KW" ini setengah mati mengharamkan rokok, musik, film, atau bahkan gambar/foto karena dianggap membahayakan "eksistensi" Tuhan.

Musik/film dipandang sebagai media "perangkap setan" yang membahayakan iman.

Padahal, para "Wahabi Ori" biasa saja nonton film, dengerin musik, dan foto-foto, dan "udad-udud" (merokok).

Ya tentu saja tidak semuanya.

Kemudian, para "Wahabi KW" ini juga "kolot" sekali sikapnya dengan kaum perempuan.

Baca Juga: 6 Cara Orang Tua Membantu Anak Belajar Baca Menurut Harvard Graduate School of Education

Misalnya, kaum perempuan hanyalah sebatas "pelayan lelaki" (sumur-dapur-kasur) yang agak mirip-mirip dengan "budak lelaki" (tapi bukan "budak-budak" dalam Bahasa Malay ce he he).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Qodir Majid

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X