Haji Itu Simbol Kesempurnaan Islam

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 28 Juni 2023 | 15:31 WIB
Tenda para jamaah haji di Mina. (suaramerdeka.com/Fahmi Zulkarnain)
Tenda para jamaah haji di Mina. (suaramerdeka.com/Fahmi Zulkarnain)

Tidak mengherankan jika figur sentra dari seluruh rangkaian ritual ibadah haji adalah Ibrahim AS. Karena beliaulah sosok figur yang dikenal telah menyempurnakan semua perintah Allah: “dan ingatlah tatkala Ibrahim diuji dengan kalimat-kalimat oleh Tuhannya, maka dia menyempurnakan semuanya”.

Ibrahim dikenal sebagai ”penghulu monoteisme”. Dalam bahasa agama beliau dikenal sebagai ”abul ambiya”. Bapak para nabi.

Baca Juga: Kemandirian Ekonomi, Komisaris BSI Ajak Mahasiswa Meneladani Spirit Nahdlatut Tujjar

Ibrahim AS juga merupakan sosok yang telah menjadi ”uswah” dalam perjalanan menuju kepada kesempurnaan Islam. Mulai dari proses mencari tuhan yang sebenarnya hingga pengorbanan tanpa pamrih dalam pengabdian dan ketaatan kepada Rabbul alamin.

Maka sangat wajar jika kemudian dalam Islam Ibrahim AS dikenal sebagai orang pertama yang digelari secara formal sebagai ”Muslim” (dialah yang menamaimu sebelumnya sebagai Muslim).

Tentu penobatan gelar “Muslim” yang maksud bukan pada pemahaman Universal. Karena secara Universal semua manusia diyakini terlahir Muslim. Dan semua nabi dan rasul adalah pembawa risalah Islam.

Tapi bagi Ibrahim kata Muslim di sini adalah penyebutan “institutional”. Itulah yang diabadikan dalam Al-Quran: ”huwa samaakumul muslimiina min qabl”. Bahwa sebelum Muhammad SAW atau sebelum Al-Quran, Allah SWT memberikan gelar “muslim” pertama kali kepada Ibrahim AS.

Bahkan dengan tegas Al-Quran menegaskan: ”Ibrahim bukan Yahudi, tidak juga Nasrani. Tapi seorang Muslim yang hanif”.

Semua realita itulah yang menjadikan ibadah haji terkait erat dengan Ibrahim AS. Sebab sekali lagi haji menjadi amalan sekaligus pembuktian akan kesempurnaan Islam sebagaimana telah dibuktikan oleh Ibrahim AS.

Tentu yang lebih penting lagi, haji haji dimaknai sebagai “hujjah” (pembenaran) karena dengan haji seorang Mukmin membuktikan keislamannya. Tentu dengan harapan bahwa kelak ketika meninggal dunia, sang haji dengan haji mabrurnya dapat membuktikan bahwa dia memang meninggal dalam keadaan Muslim.

Sebagaimana diingatkan oleh Al-Quran: ”wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun” (janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslim”.

Baca Juga: Untuk Para Pejuang Mimpi

Itu pula yang dijanjikan oleh baginda Rasulullah SAW: ”haji mabrur balasannya tiada lain kecuali syurga”.

Semoga jamaah haji kita dikarunia haji yang mabrur. Amin!

Makassar City, 27 Juni 2023

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X