Awalnya biasa-biasa saja. Dengan sisa-sisa modal yang ada MR (Muhammad Rehman) menyewa apartmen dua kamar di Brooklyn. Dengan 6 anak tentu yang sudah dewasa, apartemen itu cukup padat. Anak-anaknya yang pria memilih tidur di kamar tamu (living room).
Hari-hari pun berlalu dan anak-anak masih taat beragama. Mereka rajin seolah di sekolah umum. Mereka masih ngaji dan sholat. Hingga semua selesai SMA. Bahkan dua di antara anak-anaknya selesai college. Saat itulah terjadi perubahan yang drastis. Seorang anaknya jadi polisi. Satu lagi kerja dengan imigrasi di bandara. Dua orang bahkan menjadi farmasis. Dua lainnya tidak disebutkan apa kerjaannya.
Sejak anak-anak pada bekerja, sang ayah (MR) menjadi gelisah. Anak-anak yang tadinya masih sholat, kini tidak mau lagi jika diingatkan untuk sholat. Bahkan dengan terang-terangan menyampaikan kepada ayahnya: “jangan bersikap kampungan. Kita Sudah tinggal di New York”.
Yang paling menyedihkan lagi, beberapa waktu kemudian isterinya ternyata ikut terpengaruh. Bahkan setiap kali MR berbicara kepada isterinya tentang kegelisahannya, sang isteri menjawab hal yang sama: “kita Sekarang bukan lagi di Bangladesh. Tidak usah terlalu peduli dengan hal-hal itu (Sholat dan agama).”.
Berbulan-bulan, bahkan bertahun, MR hanya bisa berdoa dan menangis. Hingga tahun lalu beliau kehilangan sabarnya dan meninggalkan rumahnya. Empat dari anak-anaknya telah duluan keluar dari apartemen itu. Sementara MR hanya bekerja sebagai penjaga grocery (toko kecil) milik warga Bangladesh dengan gaji minimum.
Yang paling menyedihkan adalah ketika meninggalkan apartemen itu sang isteri justeru meminta cerai. Maka di penghujung usianya itu ayah dan Ibu dari 6 anak itu juga resmi bercerai. Isteri tinggal bersama salah seorang anaknya. Sementara sang ayah saat ini menyewa sebuah kamar di rumah seorang warga Bangladesh di Jamaica Queens.
Baca Juga: Alhamdulillah, Kuota Haji Indonesia Bertambah
Sore itu saya menelusuri Hillside Avenue untuk menyapa sekaligus mengekspresikan dukungan kami kepada jamaah (komunitas). Tapi dengan cerita ini kami bagaikan disambar petit. Seolah ada beban berat yang yang terjatuh dari langit dan menimpa kami. Ada beban dan tanggung jawab moral untuk mencari solusi dari realita yang cukup mengiris hati itu.
Sambil menjabat tangannya saya permisi meninggalkan menuju mesjid. Hanya satu pesan: “jangan berhenti doakan anak-anaknya. Semoga Allah memberikan hidayahNya sehingga kembali menjadi anak-anak yang baik dan saleh”. Beliau mengangguk seraya minta: “doakan saya. Semoga saya dikuatkan”.
America, for many is the land of dreams. Walau mimpi itu tidak selamanya manis dan indah. Justeru bisa berubah menjadi “nightmare” (mimpi buruk) bagi sebagian imigran.
Baca Juga: Dugaan Korupsi, 2 Kades di Cianjur Berjamaah Ditangkap Aparat Penegak Hukum
Semoga Allah menjaga kita semua!
NYC Subway, 16 Mei 2023
Presiden Nusanatara Foundation
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Artikel Terkait
Puluhan Ribu Polisi RW Disebar ke Seluruh Jabar Demi Tingkatkan Kamtibmas
Waduh...Habib Bahar Ditembak, Polisi Lakukan Pendalaman Kasus dan Periksa 8 Saksi
Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Bandung Sukses Gelar Gradasi
Keren...Barisan Nasional Ganjar Pranowo (BARNAS GP) Semarakan MUSRA di GBK Jakarta
Hukum Pinjol adalah perdata, jangan panik hadapi penagih yang sering mengancam
RI-Korsel Rayakan 50 Tahun Hubungan Bilateral
Dugaan Korupsi, 2 Kades di Cianjur Berjamaah Ditangkap Aparat Penegak Hukum
Alhamdulillah, Kuota Haji Indonesia Bertambah
Dugaan Korupsi Kementerian Komunikasi dan Informatika Rugikan Negara Rp8 Trilyun
Skuad Garuda Muda Bakal Diganjar Bonus Besar Jika Juara SEA Games 2023