Oleh : Imam Shamsi Ali
“Ya Allah, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Di penghujung Ramadan ini kita diingatkan sebuah akhlak mulia Ibrahim AS terhadap Tuhannya. Ketika diperintah meninggikan fondasi Baitullah (Ka’bah) beliau melakukan dengan penuh dedikasi dan keikhalasan. Pastinya ketika itu tidak ada tendensi duniawi apapun. Bahkan saya yakin Ibrahim ketika itu belum tahu jika kelak hari bangunan itu menjadi impian begitu banyak manusia.
Walaupun pekerjaan itu adalah tugas yang termulia dengan janji pahala dan keberkahan yang dahsyat, ada satu hal yang selalu Ibrahim sadari. Bahwa beliau melakukan itu karena pengabdian (ibadah). Dan karenanya pengabdian atau ibadah yang kita lakukan, bukan pada apa dan bagaimana melakukannya. Tapi pada ridho dan penerimaan Allah SWT. Ada rasa ketawadhuan yang mendalam di hati beliau di hadapan Allah SWT.
Inilah akhlak mulia terhadap Allah yang perlu kita tauladani dari Ibrahim AS. Melakukan sesuatu yang termulia, dengan dedikasi dan keikhlasan, tapi tetap rendah hati kepada Rabbnya. Fokus tetap pada ketinggian kuasa Allah. Dia yang memerintahkan. Tapi Dia pula yang punya otoritas untuk menerima atau menolak.
Baca Juga: Polres Cianjur Ungkap Motif Pelajar Bunuh Pelajar, Gara-Gara Hal Ini
Dan karenanya kita akhiri Ramadan ini dengan doa yang sama: “Rabbana taqabbal minna innaka Anta as-Sami’ al-‘Alim”. Kita merendahkan diri dan hati kita hanya kepadaNya. Sebagaimana kita telah meminta hidayah, kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan puasa Ramadan, kita juga memohon penerimaan Allah SWT.
Di ayat ke 185 Surah Al-Baqarah Allah mengingatkan: “dan sempurnakan bilangan hari Ramadan, dan besarkan Allah atau hidayahNya kepadamu. Dan Semoga kalian menjadi orang-orang yang bersyukur”.
Ayat ini mengingatkan kita untuk menyempurnakan (mengakhiri) Ramadan dengan “takbir” (membesarkan Allah) atas petunjukNya. Seolah mengingatkan kita bahwa sehebat apapun puasa yang kalian lakukan semua itu tidak lepas dari kuasa dan hidayah Allah SWT. Dan karenanya jangan membangun karakter Superman atas nama “Ibadah”.
Betapa sayangnya mereka yang beribadah dengan penuh dedikasi dan kesungguhan. Tapi ibadah yang mereka lakukan menjadi sebuah jalan “keegoan” (keakuan). Bahkan lebih berbahaya lagi ketika ibadah-ibadah yang dilakukan itu menjadi keangkuhan. Dengan ibadahnya merasa lebih, termasuk lebih beragama dan lebih suci.
Baca Juga: Desa Wisata Percepat Pemulihan Ekonomi
Salah satu keangkuhan itu adalah ketika melakukan ibadah-ibadah lalu merasa syurga telah menjadi miliknya. Seolah syurga itu dapat dibeli dengan bilangan rakaat sholat atau jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca. Seolah ketika telah melakukan Sholat tahajjud kunci syurga telah ada dalam genggamannya.
Allah mengingatkan kita: “jangan sucikan diri-diri kalian. Allah lebih tahu siapa yang paling bertakwa di antara kalian”.
Dan karenanya ujung ayat 185 Sutan Al-Baqarah itu mengatakan: “dan mudah-mudahan kalian bersyukur”. Bermakna bahwa di akhir Ramadan ini yang harus terbangun dan adalah ketawadhuan yang terealisasi dalam wujud kesyukuran kepada Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan bahwa pengabdian/ibadah-ibadah yang beliau lakukan bertujuan: “tidakkah saya menjadi hamba yang bersyukur?”.
Salah satu doa yang populer dan sering dilanjatkan di doa-doa munajat akhir Ramadan adalah “Rabbana ij’alna minas su’adaai al-maqbuulin. Wa laa taj’alna minal asyqiyaa al-marduudiin” (ya Allah jadikanlah kami hamba-hambaMu yang berbahagia dengan pengabulan. Dan jangan kiranya Engkau jadikan kami termasuk yang celaka dengan penolakan Engkau).
Artikel Terkait
Memaknai Keberkahan Ramadan - 28
Sudjiwo Tedjo Berlebaran
Momentum Lebaran AHY Bertemu ARB, Sinyal Capres-Cawapres?
Duh, Jalan di Cianjur Selatan 'Siga Wahangan Saat'
Namamu Dicatut Jadi Anggota Partai Politik? Berikut Cara Mengeceknya
Polres Cianjur Ungkap Motif Pelajar Bunuh Pelajar, Gara-Gara Hal Ini
Cantik! Puteri Indonesia Bangka Belitung 2 2023 Kenalkan Baju Adat Daerah
Menhan Prabowo Serahkan 20 Unit Mobil Ambulans untuk Rumah Sakit
Desa Wisata Percepat Pemulihan Ekonomi
Dinda Nur Safira, Puteri Indonesia Yogyakarta 2023, Anggun!