Memaknai Keberkahan Ramadan - 28

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 28 April 2023 | 18:40 WIB
Memaknai Keberkahan Ramadan - 28 (Elements Envato)
Memaknai Keberkahan Ramadan - 28 (Elements Envato)


Imam Shamsi Ali

Al-Quran yang diturunkan secara menyeluruh (jumlatan wahidatan) di malam yang Istimewa itu, pada dirinya sangat Istimewa. Keistimewaan Al-Qur’an itu ada pada segala aspeknya. Tidak ada yang terkait Al-Qur’an kecuali menjadi Istimewa.

Bulan dan malam diturunkannya menjadi Istimewa. Itulah Ramadan dan laelatul Qadar. Rasul yang menerimanya menjadi “sayyid al-ambiya wal mursaliin” (penghulu para nabi dan rasul). Umat yang padanya ditujukan Al-Qur’an menjadi “khaer ummah” (umat terbaik).

Al-Qur’an sendiri menjadi Kitab Suci yang Istimewa karena dipilih menjadi Kitab suci yang mengandung segala kandungan kitab-kitab suci lainnya. Artinya apa yang ada di Taurat, Injil, Zabur, maupun Shuhuf Ibraim, semuanya terwakilkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh manusia di seluruh tempat dan waktu.

Jika Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa AS dan Kitab Zabur yang diturunkan kepada Daud AS disebut Perjanjian Lama (Old Testament) dan Injil yang diturunka kepada Isa SA disebut Perjanjian Baru (New Testament). Maka Al-Qur’an dapat disebut sebagai “Perjanjian Final” (Final Testament) yang diturunkan untuk umat manusia.

Secara sederhana Al-Qur’an didefenisikan sebagai “Kalam Allah yang bersifat Mu’jizat, yang diturunkan kepada Muhammad, dan membacanya bernilai ibadah”.

Baca Juga: Magang di DPR RI Bersama Ade Sahrul: Menjelajahi Dunia Legislasi dan Menambah Relasi

Defenisi ini mengandung empat poin utama:

Satu, bahwa Al-Qur’an itu adalah Kalam Allah. Sehingga Kalam yang lain dengan sendirinya tersisihkan (excluded). Bahkan kalam (Kata-kata) Muhammad SAW juga tidak menjadi bagian dari Al-Qur’an.

Kedua, bahwa Al-Qur’an itu adalah mu’jizat terpenting dan terutama Rasulillah SAW. Mu’jizat yang bersifat abadi dan hadir pada masa-masa yang menantang. Di saat bahasa manusia menjadi keangkuhannya Al-Qur’an hadir menantang dengan bahasa yang mengalahkan (mu’jiz). Ketika keilmuan manusia menjadi keangkuhan, Al-Qur’an hadir menantang dengan fakta-fakta keilmuan yang mengalahkan (mu’jiz). Demikian seterusnya.

Ketiga, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan kepada Muhammad SAW. Dengan demikian semua pengakuan akan adanya wahyu yang diturunkan kepada selain Muhammad batal dengan sendirinya. Termasuk pengakuan kaum syiah tentang 1/3 wahyu yang diturunkan kepada Ali (Karramallahu wajhah).

Keempat, bahwa membaca Al-Qur’an itu berbeda dari membaca buku-buku atau kitab lainnya. Hanya Al-Qur’an yang ketika membacanya bernilai ibadah. Bahkan setiap huruf bernilai 10 pahala seperti yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

Jika kita mengkaji makna-makna kemu’jizatan Al-Qur’an maka pembahasannya tidak akan habis. Saya hanya ingin menyampaikan sekali lagi bahwa kemu’jizatan Al-Qur’an yang terpenting Al-Quran ada pada “al-i’jaaz ar-ruuhi” atau kemu’jizatan ruhiyah. Yaitu sebuah kekuatan batin yang membawa perombakan dahsyat dalam kehidupan manusia. Baik pada tataran individu maupun jama’ah (publik).

Baca Juga: Menko Polhukam Tegaskan RUU Perampasan Aset Bakal Segera Dibahas, Koruptor Dibikin Miskin

Al-Qur’anlah yang merubah Umar Ibnu Khattab dari kejahilan yang dalam menjadi seorang Umar Al-Faaruuq. Al-Qur’an pula yang merubah Bilal Ibnu Rabah dari seseorang dengan mentalitas yang hina menjadi seseorang dengan mentalitas yang penuh izzah (kemuliaan). Pada tataran kolektif Al-Qur’anlah yang merubah Jazirah Arab dari kegelapan ke cahaya yang terang benderang (minaz zulumat ilan nuur).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X