Mengorak Esensi Ramadan sebagai Bulan Pendidikan Karakter: Antara Moral Knowing, Moral Feeling atau Moral Act?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 28 Maret 2023 | 16:21 WIB
Anwar Sanusi (Mahasiswa Program Doktor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Anwar Sanusi (Mahasiswa Program Doktor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Oleh Anwar Sanusi (Mahasiswa Program Doktor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

Ramadan adalan bulan pendidikan karakter. Dalam bulan tersebut, umat Islam dibentuk kepribadiannya agar menjadi insan yang saleh secara individual dan sosial hatta mereka bisa menggapai derajat takwa. Sebagaimana yang tercandrakan dalam surah Al-Baqarah ayat 183: “Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Menurut interpretasi Az-Zuhaili (2005) pada ayat tersebut, Allah SWT mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Pernyataan tersebut mencandrakan bahwa Ramadan hanya dirindukan oleh orang-orang yang beriman karena bulan tersebut sarat dengan kemuliaan, keagungan, dan rahmat Allah SWT.

Berkaitan dengan sempalan ayat tersebut, Al-Sabuni (2007) juga menandaskan bahwa puasa memiliki manfaat bagi orang yang melaksanakannya, karena dapat mengendalikan hawa nafsunya dan manifestasi taat terhadap perintah Allah SWT. Pada akhirnya, habituasi yang dilakukan dalam puasa membuat jiwa seseorang terdidik untuk senantiasa meninggalkan sesuatu yang haram.

Semua ibadah yang wajib dan sunah di bulan Ramadan sarat dengan nilai-nilai pendidikan karakter, di antaranya nilai karakter religus yang dimanifestasikan dalam mendirikan salat, puasa, membayar zakat, bersedekah, dan membaca Al-Qur’an. Nilai kejujuran mengejawantah dari pribadi yang tidak berbohong dan menjauhi ucapan-ucapan kotor yang bisa menyakiti hati orang lain. Kemudian, nilai karakter disiplin bisa dilihat dari membiasakan diri salat tepat waktu dan berjamaah serta mentaati semua aturan yang berkaitan dengan ibadah puasa.
Lebih tedas, puasa juga mendidik kesetaraan, sikap ingin selalu belajar dan empati. Hal ini selaras dengan esensi pendidikan karakter.

Shidiq (2023) juga menambahkan bahwa secara aksiologis, puasa di bulan Ramadan memiliki tiga pokok. Pertama, puasa mengajarkan seseorang agar memiliki sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial sekitar. Kedua, puasa Ramadan mengajarkan seseorang untuk merajut hubungan antara kesalehan pribadi dengan kesalehan sosial atau kelompok. Ketiga, memungkinkan lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif, dan efisien. Dengan demikian, bulan Ramadan disebut sebagai madrasah kubro yakni sebuah perjalanan pendidikan yang panjang yang menjadikan manusia menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah SWT. Dengan kata lain, nilai-nilai karakter yang diterapkan selama melaksanakan ibadah di bulan Ramadan bermuara pada target akhir untuk mencapai derajat takwa.

Namun, secara faktual, masih banyak di antara kita yang berpuasa tapi masih melakukan perbuatan tercela atau kemaksiatan secara sadar. Mereka mengetahui dan merasa bahwa perbuatan tersebut merupakah salah, namun mereka tetap saja melakukannya. Bahkan, yang lebih menghawatirkan banyak di antara kita yang mengetahui dan sadar kewajiban berpuasa di bulan ramadan, namun mereka tidak berpuasa bahkan merekeka cenderung banyak melakukan kemunkaran, padahal secara usia mereka sudah balig untuk berpuasa.

Dalam domain pendidikan karakter, kondisi mereka termasuk pada tahap moral knowing (mengetahui) serta moral feeling (merasa), dan belum mencapai pada tahap moral action (tindakan). Secara eksplisit, Lickona memadahkan (1992) bahwa moral knowing berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang akan nilai-nilai yang universal. Moral feeling berkaitan dengan aspek emosi yang dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia yang berkarakter. Sedangkan moral action berkaitan dengan bagaimana seseorang membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Moral action ini merupakan hasil (outcome) dari moral knowing dan moral feeling. Dengan demikian, moral knowing dan moral feeling tentang puasa ramadan harus didukung secara penuh dengan moral action yaitu bertindak sesuai dengan syariat Islam.

Sesungguhnya, yang berat itu bukan menjalankan puasa itu sendiri, tetapi bagaimana agar ibadah yang dilakukan di bulan Ramadan diridai dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT. Oleh karenanya, dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan khususnya puasa mesti mempunyai ilmu yang mendasarinya. Selain itu, ihwal penting lainnya bahwa puasa Ramadan tidak hanya sebatas menahan lapar dan haus. Sebab, jika hanya menahan lapar dan haus semata, maka seseorang hanya akan terjebak pada aspek dimensi fisik belaka. Padahal, dalam puasa seseorang mesti mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, moral, psikologis, dan sosial secara simultan.

Sekaitan dengan hal itu, maka Ramadan adalah momentum yang tepat untuk dijadikan sebagai sarana dalam menyiapkan pembinaan karakter anak-anak dan masyarakat di lingkungan sekitar. Orang tua dan tokoh masyarakat mesti menjadi role model sekaligus mentor bagi anak dan masyarakat dalam mewujudkan perilaku yang berkarakter, karena pendidikan karakter tidak saja menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, masyarakat, dan keluarga.

Artikel Selanjutnya

Memaknai Keberkahan Ramadan - 05

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X