Jalan Tengah (2)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 25 Maret 2023 | 13:09 WIB
ILUSTRASI: Ilustrasi Jalan
ILUSTRASI: Ilustrasi Jalan


Oleh: Hamdan Juhannis

Seorang bijak pernah bersabda tentang hukum energi yang terjadi pada manusia. Orang dengan energi lebih rendah cenderung meragukan, menyangkal, atau iri kepada yang lain. Orang  dengan energi yang setara cenderung menyukai, mengagumi, atau membenarkan yang lain. Orang dengan energi yang lebih tinggi cenderung memahami, mendukung, atau mentoleransi yang lain.

Energi  adalah daya atau kekuatan untuk beraktifitas, berpikir, bertindak atau berprilaku. Energi pikir itulah yang membuat kita mampu berpikir pisitif tentang seseorang atau sesuatu. Demikian juga dengan berpikir negatif, sangat membutuhkan energi yang lebih tinggi, karena kata orang, untuk mengeluarkan energi negatif dibutuhkan lebih banyak lagi tenaga karena adanya konstalasi ketidakteraturan yang ingin diproduksi.

Baca Juga: Strategi Penanganan Nelayan Indonesia-Malaysia

Itulah, untuk mendendam  membutuhkan energi yang lebih besar dibanding untuk berdandan. Padahal dendam hanyalah aktifitas batin dibanding dandan yang membutuhkan ongkos dan gerakan  fisik.

Kembali ke hukum energi di atas. Saya membaliknya, mengapa orang dengan energi yang lebih rendah cenderung iri atau kurang mempercayai yang lain. Karena orang itu sering menguras energinya untuk hal-hal yang negatif, jadinya mereka memiliki kekurangan stok energi dalam dirinya.

Mengapa orang yang memiliki energi yang setara cenderung mencintai atau mengagumi. Karena dari pertautan mereka terjadi keseimbangan energi, proses "take and give" yang merata, cara membangun persepsi yang seimbang, dan memberikan penilaian yang setara. Itulah yang disebut dengan "chemistry".

Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan - 03

Dan mengapa orang yang lebih tinggi energinya cenderung mendukung, mentoleransi, atau memahami. Menurut saya, karena mereka memiliki stok energi berlebihan. Mereka menyimpan banyak energi dalam dirinya. Mereka baru melepaskan energi bukan hanya pada hal-hal yang positif, tetapi saat melepaskannya tidak membutuhkan energi besar. Betapa sedikitnya energi yang dikeluarkan untuk sekadar memuji, dibanding untuk mengkritik. Betapa sedikitnya energi yang dikeluarkan untuk mendukung sebuah gagasan bernas dibanding menolaknya hanya karena gengsi.

Saya sering bertemu dengan tokoh, dan yang keluar dari mulutnya: anda hebat, anda dahsyat, anda paripurna, atau tiada duanya. Lalu saya berpikir itulah mengapa dirinya menjadi tokoh karena punya stok energi kehidupan yang rata-rata di atas kebanyakan.

Baca Juga: Akses Jalan Tol ke Pelabuhan Patimban Subang Terus Dibangun

Mengakhiri coretan subuh ini, saya bertanya reflektif, mengapa kita selalu kuat menahan lapar saat puasa Ramadan. Karena di sana hukum energi bekerja. Kita dikondisikan  untuk menyimpan banyak stok energi dengan ajaran kemuliaan Ramadan. Lalu apa bagaimana memelihara energi di luar Ramadan? Jalan tengahnya, buatlah situasi bulan-bulan lain seperti Bulan Ramadan. Energi ceramah saya juga bisa dipertahankan. Yang terakhir ini paham kan?

Artikel Selanjutnya

Memaknai Keberkahan Ramadan - 02

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X