NU, Indonesia dan Dunia kehilangan Ahli Fiqh Terkemuka

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 26 Februari 2023 | 11:36 WIB
Profil Mendiang Ali Yafie Eks Ketum MUI 1999-2000: Lengkap Penghargaan hingga Nama Istri (Instagram.com / @muipusat.)
Profil Mendiang Ali Yafie Eks Ketum MUI 1999-2000: Lengkap Penghargaan hingga Nama Istri (Instagram.com / @muipusat.)

Oleh: Nadirsyah Hosen

Wafatnya Prof KH Ali Yafie mengiris-iris batin kita. Beliau lahir pada tahun NU berdiri (1926) dan saat NU merayakan 1 Abad, beliau tengah terbaring di RS. Dan tadi malam berita duka itu pun tiba. Lahul Fatihah

Saya beruntung pernah menyaksikan perdebatan para ahli fiqh kita di MUI dan acara Departemen Agama tempo doeloe. Kiai Ali Yafie dan Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) sama-sama aktif di MUI era orde baru. Keduanya ahli fiqh. Keduanya berakrobat secara fiqh menjaga agar kebijakan Pemerintah Soeharto tidak merugikan dan menyengsarakan umat Islam.

Baca Juga: MUI Gelar Istighosah Kubro dan Do'a untuk Keselamatan Bangsa di Masjid Agung Cianjur

Keterlibatan Kiai Ali Yafie yang asli produk pesantren di panggung nasional membawa beliau pada gagasan Fiqh Sosial. Berbeda dengan KH Sahal Mahfud (yang kemudian juga menjadi Ketum MUI dan Rais Am PBNU), gagasan Fiqh Sosial Kiai Ali Yafie bercorak sturuktural, sedangkan Kiai Sahal lebih bercorak kultural. Namun muara keduanya sama: kemaslahatan umat.

Saya juga beruntung dulu menyaksikan perdebatan KH Ma’ruf Amin dan KH Ali Yafie dalam forum ilmiah mengenai haji. Dengan santun tapi tegas, keduanya menyampaikan argumen fiqh masing-masing.

Baca Juga: Pendidikan Kader Ulama MUI Cianjur: Sebuah Uji Coba yang Sangat Berani Tapi Terukur

Dulu itu para ulama kita di PBNU dan MUI memang ulama yang menonjol kualitasnya. Karya dan pemikirannya jelas terekam dalam tulisan maupun forum ilmiah. Sekarang seolah kita mengalami krisis ulama mumpuni di berbagai level.

Bayangkan, saat tahun 1991 menerima gelar Profesor dari Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, Kiai Ali Yafie dalam orasi ilmiahnya sudah bicara soal fiqh lingkungan hidup. Saat umat masih sibuk soal fiqh ibadah, beliau sudah melempar gagasan yang melampaui kajian fiqh klasik. Sepeninggal Abah saya, beliau didaulat menjadi Rektor IIQ Jakarta.

Baca Juga: MUI Kabupaten Cianjur Gelar Silaturahim Ulama dengan Dunia Usaha

Wafatnya beliau seolah menjadi tanda peralihan ke generasi ahli fiqh di era digital. Semoga akan muncul penerus kepakaran beliau dari rahim Ibu Pertiwi, yang santun, alim, lentur dalam berpendapat tapi kokoh dalam bersikap. Selamat jalan Kiai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X