Karena itu, kemampuan dalam negeri terus ditanam. Tidak semuanya berhasil, tidak semua persoalan selesai. Inflasi, pengangguran, dan tekanan ekonomi tetap menjadi kenyataan yang dihadapi.
Persoalan-persoalan sosial termasuk masalah emansipasi perempuan masih menjadi tantangan terjal. Namun di balik segala keterbatasan itu, ada tekad untuk tidak menyerahkan masa depan kepada tekanan eksternal.
Pelajaran bagi Indonesia
Berbeda dengan Iran, Indonesia tidak tumbuh dalam rongrongan dan kepungan yang sama, melainkan dalam ruang yang lebih lapang. Tetapi kelapangan itu membawa risiko lain: rasa aman yang berlebihan, ketergantungan yang halus, dan penundaan kemandirian.
Dari sini pelajaran menjadi jelas.
Kemandirian harus menjadi kerja panjang di bidang pangan, energi, teknologi, dan industri strategis. Institusi harus lebih kuat dari individu, agar arah tidak goyah saat tokoh berganti.
Resiliensi harus menjadi budaya, bukan reaksi kemampuan belajar dari perubahan, bukan sekadar bertahan darinya. Dan kepemimpinan harus bersahaja sekaligus berintegritas dan berwawasan jauh, agar kepercayaan dan arah tetap terjaga.
Sebab pada akhirnya, ketangguhan tidak ditentukan oleh kerasnya dunia, melainkan oleh kesungguhan sebuah bangsa membangun dirinya sendiri sebelum terlambat.
Artikel Terkait
Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak
Empat Pilar Harus Ditanamkan Sejak Dini
Fasilitasi Warga Berhijrah, BAZNAS Jabar Buka Layanan Hapus Tato Gratis di Kabupaten Bandung
Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)
Kerendahan Hati: Syarat Utama Kepemimpinan dan Jalan Kearifan
Warganet Keluhkan Layanan Darurat 110 Polri: Respons Lamban hingga Terdengar Suara Sendawa
Menkeu Purbaya Puji Ketajaman Presiden Prabowo dalam Diskusi APBN: Orangnya Pintar, Jangan Takut!
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Mengisi Liburan dengan Aktivitas Positif Bersama Anak Cucu (Bagian 44)
Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)
Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan