Mengenang Tujuh Momentum Krusial Perjalanan Hijrah Rasulullah yang Mengubah Sejarah Peradaban

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 15 Juni 2026 | 06:51 WIB
Ilustrasi. Jelang Tahun Baru Islam, banyak masyarakat kembali mempertanyakan hubungan antara 1 Muharram dan 1 Suro. (freepik)
Ilustrasi. Jelang Tahun Baru Islam, banyak masyarakat kembali mempertanyakan hubungan antara 1 Muharram dan 1 Suro. (freepik)

JOURNALNUSANTARA.COM - Peristiwa besar perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dari kota Mekkah menuju Madinah pada tahun 622 Masehi menjadi tonggak awal perhitungan kalender Islam.

Di balik perjalanan suci tersebut, terdapat rangkaian momen penting yang sarat akan nilai perjuangan dan keajaiban spiritual yang membentuk fondasi peradaban baru.

Titik awal ketegangan bermula ketika kaum Quraisy mengadakan pertemuan penting di Darun Nadwah untuk menyusun rencana pemusnahan Rasulullah.

Guna menghindari tuntutan balas dendam dari keluarga besar Nabi, mereka memutuskan agar setiap suku mengirimkan perwakilan pemuda untuk melakukan eksekusi secara bersama-sama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sekuat apa pun konspirasi yang dirancang oleh manusia, ketetapan serta perlindungan dari Sang Pencipta akan selalu menjadi pemenang mutlak.

Pada malam pelarian yang sangat menentukan tersebut, Ali bin Abi Thalib mengambil peran yang sangat berisiko dengan menggantikan posisi tidur Nabi di bawah balutan selimut hijau beliau.

Tindakan berani ini menuntut kesiapan Ali untuk kehilangan nyawa demi mengecoh para pembunuh yang sudah mengepung rumah. Langkah darurat ini menjadi bukti nyata mengenai loyalitas tanpa batas serta pengorbanan tertinggi para sahabat demi tegaknya syiar Islam.

Keajaiban berikutnya terjadi sewaktu Rasulullah melangkah keluar rumah dengan melewati barisan musuh yang sedang berjaga tanpa terdeteksi sedikit pun. Sembari merapalkan ayat suci, pandangan para pengepung mendadak terhalang dan kepala mereka ditaburi debu oleh Nabi.

Peristiwa tersebut memberikan pesan mendalam bahwa ketika perlindungan ilahi telah turun, rintangan fisik yang paling rapat sekalipun tidak akan mampu menghalangi jalan hamba-Nya.

Guna mengaburkan jejak dari kejaran musuh, Nabi Muhammad bersama Abu Bakar memilih untuk bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga malam berturut-turut.

Keberadaan mereka terlindungi oleh kemunculan sarang laba-laba di mulut gua serta burung merpati yang bertelur, sehingga para pelacak jejak mengira tempat itu sudah lama kosong.

Di dalam ruang yang sempit itulah lahir pesan abadi untuk tidak tenggelam dalam kesedihan dan keputusasaan karena takdir selalu menyertai orang-orang yang beriman.

Dalam rute pelarian yang gersang, rombongan Nabi sempat beristirahat di kediaman seorang wanita bernama Ummu Ma'bad dan menjumpai seekor kambing peliharaan yang kurus kering.

Melalui usapan tangan serta doa dari Rasulullah, hewan yang semula tidak menghasilkan susu tersebut mendadak mengeluarkan air susu yang sangat melimpah hingga mampu mengenyangkan semua orang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Refleksi atas Berakhirnya UHC di Kabupaten Cianjur

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:08 WIB

Berguru pada Pohon

Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:24 WIB

Memerdekakan Meja Makan, Memerdekakan Bangsa

Rabu, 22 Juli 2026 | 05:52 WIB

Sesudah Perayaan

Selasa, 21 Juli 2026 | 07:13 WIB

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB
X