Ketika rasa adil hilang dalam perkara-perkara yang paling dekat dengan kehidupan, seluruh bangunan politik kehilangan fondasinya, seberapa pun megahnya ia tampak dari luar.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal menguasai keadaan, melainkan menjaga agar negara tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah keadaan yang berubah cepat.
Sebab negara tidak jatuh ketika menghadapi krisis. Negara jatuh ketika kehilangan arah, kehilangan kepercayaan, dan kehilangan disiplin untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Yang dibutuhkan negara bukan janji kesempurnaan, melainkan kesiapan untuk tetap tegak dalam ketidakpastian menjaga hal yang esensial ketika stabilitas di sekelilingnya melemah, dan bertindak dengan kejernihan ketika tekanan meningkat.
Artikel Terkait
Anak Bukan Milik Kita, Anak Milik Allah Sepenuhnya
Regulasi Diperketat, Disdikpora Cianjur Larang Kelas Shift Ganda dan Pungutan dalam SPMB 2026/2027
Mutiara Pagi: Di Antara Dua Bintang (Bagian 2233)
Seni Menemukan Kedamaian di Tengah Riuhnya Pikiran
Democracy for Realists: Pelajaran bagi Indonesia
PK PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur Gelar PKD Se-Nusantara di Kampus Queen Al-Tafsiri
BEM PTNU Desak Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis dan Pengusutan Polemik BGN
Mutiara Pagi: Membaca Sebab (Bagian 2234)
World Environment Day 2026, Duta Lingkungan Jabar Gelar Aksi Kelola Sampah
Pertimbangkan Situasi Ekonomi Masyarakat, Polri Tunda Pelaksanaan Operasi Patuh 2026