Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Meraih Predikat Haji Melalui Perbaikan Shalat dan Taubat (Bagian 39)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 15 Mei 2026 | 17:45 WIB
Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. / dok Kemenhaj
Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. / dok Kemenhaj

JOURNALNUSANTARA.COM - Banyak umat Muslim mendambakan gelar haji namun terhambat oleh biaya atau antrean yang sangat panjang. Padahal, esensi dari predikat haji adalah kembalinya seseorang kepada fitrah yang bersih dan ketaatan yang tulus kepada Allah SWT.

Kesempatan untuk meraih kemuliaan yang serupa sebenarnya terbuka lebar melalui perbaikan ibadah harian. Shalat adalah pondasi utama yang menjadi penentu kualitas seluruh amal ibadah seorang hamba di akhirat kelak.

Memperbaiki shalat berarti meningkatkan kekhusyukan dan ketepatan waktu. Saat kita berdiri di hadapan Allah dengan penuh kesadaran, kita sebenarnya sedang melakukan perjalanan spiritual yang sangat mendalam menuju Sang Pencipta.

Shalat yang benar akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Inilah inti dari perubahan perilaku yang diharapkan dari seorang haji mabrur, yaitu menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

Selain shalat, pintu taubat senantiasa terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin menyucikan diri. Taubat nasuha adalah proses pembersihan jiwa dari noda dosa yang selama ini membebani langkah kehidupan kita.

Dengan bertaubat, seseorang melepaskan beban masa lalu dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Proses penyucian hati ini memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Allah, layaknya jamaah yang baru pulang dari Arafah.

Jika kita belum mampu berangkat ke tanah suci, janganlah berkecil hati. Fokuslah pada perbaikan kualitas sujud kita di setiap waktu shalat dan keikhlasan dalam memohon ampunan setiap harinya.

Istiqomah dalam kebaikan dan menjaga lisan serta hati adalah cerminan dari kemabruran yang sesungguhnya. Predikat haji di mata manusia mungkin penting, namun keridaan Allah jauh lebih utama untuk dikejar.

Mari jadikan setiap hari sebagai momentum untuk berhaji secara spiritual. Melalui shalat yang terjaga dan taubat yang tulus, kita bisa meraih derajat kemuliaan di sisi Allah meski raga belum menginjakkan kaki di Makkah.

Oleh: Tim Media DKM Al-Muhajirin, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB

Obor Hijriah Perangi Korupsi

Selasa, 16 Juni 2026 | 20:05 WIB

Sekolah Garuda dan Kasta Baru Pendidikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:35 WIB

Menguji Keberanian Mengungkap Gurita Korupsi MBG

Selasa, 9 Juni 2026 | 15:57 WIB

Mengetuk Pintu Malam yang Terkunci Dosa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:16 WIB

Estetika sebagai Basis Etika dan Kejayaan Bangsa

Selasa, 9 Juni 2026 | 06:10 WIB
X