Penulis: Zahra Zulaiva Elhapidi (Sastra Arab-Universitas Padjadjaran)
Jika kalian melihat kondisi geopolitik saat ini apa yang ada dibenak kalian? Bagaimana caranya kalian mengutarakan pendapat kalian mengenai masalah tersebut? Benarkah melalui sastra atau tulisan bisa menjadi ruang jujur merekam masalah yang terjadi?
Dunia hari ini pun masih dipenuhi konflik yang sama, yang meninggalkan luka kemanusiaan. Perang, pengungsian, dan ketegangan geopolitik yang tidak hanya mengubah peta politik internasional, tapi juga membentuk pandangan dan pengalaman hidup jutaan manusia. Di tengah kenyataan pahit itu, ada satu hal sederhana yang dapat merubah seseorang, yaitu sastra.
Sastra adalah hal yang sering menjadi ruang paling jujur untuk merekam penderitaan, kegelisahan, dan harapan masyarakat yang hidup di bawah bayang-bayang konflik. Dalam konteks dunia Arab, sastra kontemporer bukan sekadar menjadi luapan ekspresi, melainkan menjadi makanan sehari-hari yang merefleksikan realitas geopolitik yang kompleks.
Karya sastra sering kali menjadi suara bagi hal-hal yang tidak selalu terlihat dalam masalah politik atau berita internasional. Melalui narasi dan pengalaman tokohnya, sastra dapat menghadirkan sisi kemanusiaan dari konflik global. Karya yang dapat menggambarkan bahwa sastra itu ruang jujur adalah novel Men in the Sun karya Ghassan Kanafani. Novel ini mengisahkan tiga pengungsi Palestina yang berusaha meninggalkan tanah air mereka demi mencari kehidupan yang lebih layak.
Perjalanan mereka yang berakhir tragis bukan sekadar kisah seseorang saja, tetapi gambaran tentang penderitaan masyarakat yang terusir akibat konflik berkepanjangan di Palestine. Kanafani menghadirkan realitas pahit bahwa di balik konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, selalu ada manusia yang kehilangan rumah, identitas, dan masa depan.
Tetapi konflik global tidak selalu meninggalkan sesuatu dalam bentuk pengungsian, perang, senjata, nuklir. Dalam banyak kasus, konflik juga meninggalkan jejak yang lebih halus namun mendalam, salah satunya adalah krisis identitas. Hal ini terlihat dalam novel Season of Migration to the North karya Tayeb Salih. Tokohnya bernama Mustafa Sa’eed. Novel ini menggambarkan perang batin seorang intelektual yang hidup di antara dua dunia, yaitu Timur dan Barat.
Latar cerita di Sudan memperlihatkan bagaimana sejarah kolonialisme membentuk hubungan yang kompleks antara dunia Arab dan Barat. Konflik yang digambarkan dalam novel ini bukan hanya tentang politik, tapi juga psikologis dan kultural: pertanyaan tentang siapa diri seseorang ketika identitasnya terbentuk oleh dua peradaban yang berbeda.
Dua karya tersebut memperlihatkan bahwa sastra Arab modern mampu merepresentasikan berbagai wajah konflik global. Di satu sisi, konflik nyata dalam bentuk pengungsian, kehilangan tanah air, dan tragedi kemanusiaan. Di sisi lain, konflik juga muncul dalam bentuk krisis identitas yang lahir dari sejarah kolonialisme dan relasi kekuasaan global. Dengan kata lain, konflik global tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di dalam kesadaran manusia.
Karya-karya seperti Men in the Sun dan Season of Migration to the North mengingatkan bahwa konflik tidak pernah benar-benar jauh dari kehidupan manusia. Sastra menghadirkan dimensi kemanusiaan yang sering kali hilang dalam ranah politik. Ia memaksa pembaca untuk melihat konflik bukan sekadar sebagai peristiwa geopolitik, tetapi sebagai tragedi manusia yang nyata.
Membaca sastra Arab kontemporer bukan hanya soal menikmati karya sastra. Tapi juga menjadi cara untuk memahami bagaimana masyarakat memaknai sejarah, konflik, dan identitas mereka di tengah dinamika era modern.
Sastra mengajarkan bahwa di balik setiap konflik global selalu ada kisah di baliknya, seperti kehilangan, perlawanan, dan mencari makna hidup. Dalam dunia yang terus bergejolak, suara-suara dari sastra justru sering kali menjadi pengingat paling kuat tentang nilai kemanusiaan.
Artikel Terkait
Menebar Kebaikan di Bulan Suci, Mojang Jajaka Kabupaten Bogor Galang Donasi untuk Anak Yatim
Perkuat Solidaritas di Bulan Suci, KOPRI STISIP Guna Nusantara Cianjur Gelar Aksi Bagi Takjil
Mutiara Pagi: Di Bawah Bayang-bayang Perang (Bagian 2139)
Kunjungi Desa Benjot, Bupati Cianjur Janjikan Pembangunan Fisik hingga Bantuan Sosial Spontan
Titik Nadir
Tragedi di Ladang Labu Siam: Saat Kemiskinan Berbenturan dengan Hukum
Tombo Ati Ramadhan: Menemukenali Rumus Tuhan Masa Depan
Wartawan Terhalang Saat Kunjungan Wakil Bupati Cianjur di SMAN 1, Ada Apa?
Mutiara Pagi: Doa (Bagian 2140)
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Melatih Anak Berpuasa dan Strategi Membangunkan Sahur (Bagian 29)