Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Berbakti Kepada Orang Tua yang Telah Tiada (Bagian 24)

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Jumat, 30 Januari 2026 | 05:58 WIB
Ilustrasi mendoakan orangtua. Foto: Freepik/AI
Ilustrasi mendoakan orangtua. Foto: Freepik/AI

JOURNALNUSANTARA.COM - Kematian bukanlah titik henti bagi seorang anak untuk berbakti kepada orang tuanya. Dalam tradisi spiritual dan nilai kemanusiaan yang luhur, hubungan antara anak dan orang tua memiliki dimensi yang melampaui batas fisik dan usia.

Ketika raga tak lagi bisa dipeluk dan suara tak lagi bisa didengar, bakti justru bertransformasi menjadi bentuk yang lebih murni, lebih tulus, dan penuh dengan nilai-nilai transendental.

Bentuk bakti pertama dan yang paling utama adalah melalui doa. Doa anak yang saleh dipercaya sebagai cahaya yang tak pernah padam bagi orang tua di alam kubur.

Mengirimkan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kekhilafan mereka selama hidup adalah hadiah paling berharga yang bisa diberikan oleh seorang anak.

Bakti ini tidak memerlukan harta, melainkan ketulusan hati yang terjaga dalam setiap sujud dan helaan napas.

Selanjutnya, bakti dapat diwujudkan melalui amal jariyah atas nama mereka. Membangun fasilitas umum, menyumbang untuk tempat ibadah, atau memberikan beasiswa bagi yang membutuhkan merupakan cara untuk mengekalkan kebaikan orang tua.

Setiap manfaat yang dirasakan oleh orang lain dari amal tersebut akan menjadi aliran pahala yang terus mengalir bagi mereka.

Inilah cara kita memperpanjang kebermanfaatan hidup mereka meski eksistensi fisik mereka telah tiada.

Tak kalah penting adalah menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tua.

Menghormati mereka yang dahulu dihormati oleh orang tua kita adalah bentuk penghormatan langsung terhadap memori dan relasi sosial yang pernah mereka bangun.

Dengan tetap menjalin komunikasi dan berbuat baik kepada lingkaran pertemanan mereka, kita seolah-olah menghidupkan kembali kehadiran mereka di tengah-tengah lingkungan sosialnya.

Terakhir, menjaga nama baik dan meneruskan nasihat bijak mereka adalah wujud bakti yang nyata.

Menjadi pribadi yang berintegritas dan bermanfaat bagi sesama adalah cara terbaik untuk menunjukkan hasil didikan mereka.

Di sinilah bakti mencapai puncaknya: saat nilai-nilai luhur orang tua tetap hidup dan bermanifestasi dalam karakter sang anak, membuktikan bahwa kasih sayang mereka tidak pernah benar-benar pergi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X