Oleh: Munawir Kamaluddin
Apakah benar seseorang menjadi mulia dengan merendahkan orang lain? Apakah keunggulan harus dibuktikan dengan merusak nama, mencabik martabat, dan menabur luka? Dan mengapa sebagian manusia merasa lebih bercahaya justru ketika berhasil memadamkan cahaya orang lain? Pertanyaan pertanyaan ini menggiring kita pada satu kesadaran bahwa tidak semua yang terlihat tinggi benar benar mulia. Ada ketinggian palsu yang dibangun di atas reruntuhan kehormatan orang lain, dan ada kebesaran sejati yang tumbuh diam diam dari kejujuran, kerja keras, serta kerendahan hati. Dua hal ini terlihat serupa di permukaan, tetapi sangat berbeda di mata nurani.
Menjatuhkan nama orang lain demi mengangkat diri sendiri sejatinya bukan tanda kekuatan, melainkan pertanda kelemahan batin yang belum selesai. Ia adalah jeritan sunyi dari hati yang belum berdamai dengan ketulusan. Sebab orang yang benar benar yakin pada nilainya tidak membutuhkan celaan sebagai tangga. Ia tahu bahwa martabat tidak naik karena orang lain jatuh. Al Quran dalam surah Al Hujurat ayat sebelas dengan tegas mengingatkan agar kaum mukmin tidak merendahkan kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang direndahkan itu jauh lebih baik di sisi Allah. Merendahkan orang lain sejatinya adalah perjudian moral yang selalu berakhir dengan kerugian.
Rasulullah SAW bahkan menjadikan lisan sebagai cermin kualitas iman seseorang melalui sabdanya yang memerintahkan untuk berkata baik atau diam. Hadits ini bukan sekadar anjuran etika, melainkan standar keimanan. Menjatuhkan nama orang lain adalah indikator rapuhnya iman yang belum terlatih menahan ego. Ironisnya, banyak orang mengira bahwa membuka aib orang lain akan mengangkat harga dirinya, padahal barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Jika menutup aib mendatangkan kemuliaan, maka membuka aib adalah jalan menuju kehinaan meski disamarkan dengan alasan kritik atau kejujuran.
Para sahabat Nabi memahami betul bahwa kehormatan diri dijaga dengan menjaga kehormatan orang lain. Ali bin Abi Thalib mengingatkan agar siapa pun yang ingin menjadi panutan harus memulai dengan mendidik dirinya sendiri. Ucapan ini menampar kesombongan tersembunyi bahwa mengoreksi orang lain tanpa memperbaiki diri adalah kezaliman yang dibungkus kepura puraan. Para ulama seperti Imam al Ghazali juga mengingatkan bahwa lisan adalah pintu terbesar kerusakan spiritual karena kebanyakan kesalahan anak Adam berasal dari sana. Menjatuhkan nama orang lain melalui lisan atau tulisan akan pelan pelan menggerogoti cahaya hati.
Sesungguhnya orang yang menjaga lidahnya sedang menjaga kehormatannya sendiri. Ia paham bahwa harga diri tidak bertambah dengan merendahkan orang lain, melainkan dengan memperbaiki kualitas diri secara sunyi. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Furqan ayat enam puluh tiga, hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati. Kerendahan hati bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan spiritual. Orang yang rendah hati tidak sibuk menjatuhkan karena ia terlalu sibuk menumbuhkan kebaikan yang tidak memerlukan panggung atau korban.
Maka jika hari ini engkau mampu menahan lidahmu dari menuduh dan merendahkan, engkau sedang menyelamatkan kehormatanmu sendiri. Jika engkau memilih membangun nama baik dari kerja keras dan kejujuran, yakinlah bahwa kemuliaan itu akan datang tanpa perlu kau kejar. Kebesaran sejati tidak pernah lahir dari menjatuhkan, melainkan dari meninggikan nilai nilai kemanusiaan. Hanya hati yang terang yang mampu melihat bahwa martabat tidak tumbuh dari puing puing orang lain, tetapi dari ketulusan yang dijaga dalam sunyi. Wallahu Alam Bish Shawab.
Artikel Terkait
Kematian Mulia
BEM PTNU Se-Nusantara Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD karena Dinilai Mundurkan Demokrasi
PSN Geothermal di Cianjur, Catatan Kritis di Penghujung Tahun 2025
Refleksi Akhir Tahun, GP Ansor Cianjur Adukan Ingkar Janji Bupati ke Kemendagri
Refleksi Akhir Tahun 2025: Penegakkan Hukum di Kabupaten Cianjur
Mutiara Pagi: Di Tahun Baru Ini (Bagian 2076)
Prestasi Tidur
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Awal Tahun Momentum Meninggalkan Kelalaian Menuju Kesalehan (Bagian 20)
Rapor Kuning Kinerja Bupati Cianjur Tahun 2025: Fondasi Pemerintahan Retak dan Kepercayaan Publik Masih Kritis
Ketika Hybrid Intelligence Menjadi Sekutu Terbaik Para Leader