Ketika Perbedaan Menjadi Kekuatan

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Kamis, 25 Desember 2025 | 16:34 WIB
Ilustrasi toleransi (Unsplash/Duy Pham)
Ilustrasi toleransi (Unsplash/Duy Pham)

Demikian pula masyarakat. Ketika perbedaan dipahami sebagai peran, bukan ancaman, maka kebersamaan akan menemukan maknanya.

Namun mengapa perbedaan begitu mudah memicu konflik? Karena sering kali manusia lebih sibuk membela identitas daripada menjaga kemanusiaan.

Ego kelompok mengalahkan nurani, dan kebenaran dipersempit menjadi milik satu golongan. Inilah yang dikritik oleh para sahabat Nabi. Umar bin Khattab RA. pernah berkata:
“نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ”
“Kita adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selainnya, niscaya Allah akan menghinakan kita.”

Kemuliaan Islam bukan terletak pada klaim mayoritas atau keseragaman, melainkan pada akhlak yang memanusiakan.

Islam datang bukan untuk menghapus perbedaan, tetapi untuk mengelolanya dengan adab.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa perbedaan pendapat adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia:
“الِاخْتِلَافُ فِي الرَّأْيِ رَحْمَةٌ إِذَا أُدِيرَ بِالْحِكْمَةِ”
“Perbedaan pendapat adalah rahmat apabila dikelola dengan kebijaksanaan.”

Di sinilah letak tantangan kita hari ini. Bukan pada perbedaannya, tetapi pada cara kita menyikapinya. Ketika perbedaan dihadapi dengan ilmu, ia melahirkan kebijaksanaan. Ketika dihadapi dengan emosi, ia melahirkan perpecahan.

Al-Qur’an mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam konflik yang menguras energi dan melemahkan persatuan:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kamu saling berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.”(QS. Al-Anfāl: 46)

Ayat ini bukan larangan untuk berbeda, melainkan peringatan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Sebab ketika energi habis untuk bertengkar, kekuatan kolektif pun menguap.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, kebersamaan yang dianyam dari perbedaan membutuhkan sikap rendah hati untuk mengakui keterbatasan diri. Ali bin Abi Thalib RA. berkata dengan sangat bijak:
“قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ”
“Nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia kontribusikan dengan baik.”

Bukan latar belakangnya, bukan identitasnya, tetapi manfaatnya bagi sesama. Inilah ukuran kebersamaan yang sejati.

Pada akhirnya, anyaman kebersamaan bukanlah proyek instan. Ia membutuhkan kesabaran, empati, dan keberanian untuk mendengar.

Ia menuntut kita untuk menahan ego, membuka hati, dan melihat manusia lain bukan sebagai lawan, tetapi sebagai mitra dalam menunaikan amanah kehidupan.

Jika perbedaan kita rawat dengan kesadaran spiritual, ia akan menjadi jalan untuk saling mendekat kepada Allah. Sebab Allah sendiri menciptakan keberagaman sebagai tanda kekuasaan-Nya. Dan ketika kita mampu menjadikannya kekuatan, maka kebersamaan tidak lagi rapuh, tetapi kokoh dan bermakna.

Maka mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita ingin menjadi benang yang mudah putus karena berdiri sendiri, atau bagian dari anyaman yang kuat karena saling menguatkan?

Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan kebersamaan kita, sebagai individu, sebagai masyarakat, dan sebagai bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X