Cinta bukan sekadar kata manis dalam puisi. Ia adalah sistem kehidupan yang kalau dicabut, maka yang tersisa hanya kekacauan. Tanpa cinta, kekuasaan jadi tirani.
Tanpa cinta, hukum jadi alat balas dendam. Tanpa cinta, politik jadi panggung sirkus berdarah. Dan tanpa cinta, agama hanya jadi ritual kosong, nyaring di mulut, hampa di hati.
Nietzsche pernah menyindir, “Manusia menciptakan Tuhan dalam gambarnya sendiri.” Mungkin benar. Karena kini banyak yang menyembah Tuhan yang suka murka, benci, dan memihak kelompok tertentu saja.
Tuhan versi mereka bukan sumber cinta, tapi sumber kutukan. Seolah Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak lagi relevan.
Yang menyedihkan, perang demi perang terus dirayakan sebagai kemenangan. Padahal kemenangan di atas tumpukan mayat bukanlah kejayaan, tapi kegagalan kemanusiaan.
Tak peduli siapa yang lebih dulu menyerang. Tak peduli siapa yang lebih dulu diserang. Yang pasti, semua kehilangan.
Penyair sufistik Yunani-Romawi pernah menulis, “Jika kau menusuk seseorang karena luka yang ia toreh padamu, kau tidak sedang menyembuhkan luka, tapi mewariskannya.”
Begitulah dendam bekerja. Ia melahirkan generasi baru yang belajar benci sebelum mereka belajar baca.
Maka jika dunia hari ini penuh reruntuhan, jangan cari kambing hitamnya terlalu jauh. Kita semua bersalah.
Kita membiarkan cinta dilenyapkan dari pendidikan, dari khutbah, dari rumah, dari berita, bahkan dari doa-doa kita.
Kita mengajari anak-anak menghafal perbedaan, tapi lupa menanamkan kasih. Kita memuja kecerdasan, tapi alergi pada kelembutan.
Sudah waktunya kita bertanya, bukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, tapi siapa yang masih punya cinta?
Karena jika cinta terus diasingkan, maka neraka yang kita takuti nanti, bisa jadi sedang kita bangun di sini, satu peluru menabung satu kebencian.
Artikel Terkait
Perpustakaan Digital Pustaka Azzam Hadirkan Ratusan Koleksi Kitab Terjemahan Lengkap
Sekapur Sirih 7 Hari Wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri
Kajian Islam Jadi Wisata Religi, Kenapa Tidak?
Mutiara Pagi: Tetaplah Menyala (Bagian 1880)
Perkuat Peran Strategis Alumni, PP IKA UIN SGD Bandung Gelar Rapat Kerja
Kesempatan Karir di Industri Perjalanan Spiritual, Dibutuhkan Sales dan Marketing untuk Travel Umroh di Bandar Lampung
Kang Dedi Mulyadi: Pemimpin Kreatif yang Hadir, Mendengar, dan Menginspirasi Lewat Konten Digital
Mutiara Pagi: Jejak (Bagian: 1881)
Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berpikir Soal Iran dan Palestina
Mutiara Pagi: Lintasan Hati (Bagian 1882)