Berbeda Satu Cinta

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 25 Juni 2025 | 17:00 WIB
Sepasang pria dan wanita berpakaian sopan saling menjaga pandangan, menggambarkan cinta yang dijaga dalam batas syariat (Freepik)
Sepasang pria dan wanita berpakaian sopan saling menjaga pandangan, menggambarkan cinta yang dijaga dalam batas syariat (Freepik)

Sejak awal, oleh Tuhan alam raya dicipta penuh dengan aneka warna dan tidak di wujudkan hanya dengan satu bentuk saja. Ia mencipta penuh dengan cinta.

Tapi lihat sekarang, cinta, yang dulu jadi alasan segalanya, perlahan dikafani dengan bendera, dipatri oleh ideologi, dan dipasung oleh ego kolektif manusia.

Manusia kini lebih mudah tersulut oleh perbedaan daripada tersentuh oleh kemiripan. Padahal darah kita sama-sama keturunan dari Nabi Adam, apapun itu ras,nsuku, bangsa atau agama kita.

Tapi yang kita warisi dari peradaban ini bukan lagi persamaan dari mana kita bermula, melainkan kebiasaan menyalahkan, merendahkan, dan menghakimi kepada yang berbeda.

Hasilnya? Dunia kita sekarang bukan taman, tapi medan. Medan perang, medan benci, dan medan saling mencaci.

Ada yang pernah bilang, “Cinta adalah satu-satunya hal yang membuat manusia tetap pantas tinggal di bumi.”

Tapi cinta itu sekarang meleleh oleh api benci dan ambisi, bukan oleh teroris, tapi oleh kita semua, manusia biasa yang diam, manusia cerdas yang sinis, dan manusia berkuasa yang lapar akan dominasi.

Konflik yang meledak hari ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia lahir dari sejarah panjang perampasan, penjajahan, dan penindasan yang dibungkus jargon keamanan dan kemuliaan.

Mereka yang mengklaim diri korban, tak lama kemudian memikul senapan dan menjelma jadi algojo. Ironis. Tapi begitulah kalau cinta sudah diceraikan dari keadilan.

Sufi besar Rabi’ah al-Adawiyah pernah berkata, “Aku mencintai-Mu bukan karena takut neraka atau berharap surga.

Tapi aku cinta karena Engkau layak untuk dicinta.” Inilah cinta yang melampaui pamrih.

Tapi kita? Kita mencintai hanya jika ada imbalan. Bahkan beragama pun tak lepas dari kalkulasi untung-rugi. Berbuat baik agar masuk surga, menjauhi maksiat karena takut neraka. Bukan karena cinta.

Tak heran kalau atas nama agama pun, pembantaian bisa dibenarkan. Atas nama Tuhan, bom bisa dilempar.

Tapi jangan salahkan Tuhan atas semua itu. Salahkan manusia yang mengaku mewakili-Nya, padahal sedang memperluas neraka di bumi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X