2. Memelihara Sifat Ketakwaan dan Takut-Tunduk kepada Allah SWT
Cinta, taat, dan takut kepada Allah SWT adalah langkah awal untuk mencapai derajat "khash-yah". Pedagang dan pejabat pun tetap harus senantiasa ingat kepada Allah SWT. Orang-orang yang mempertahankan identitas keislamannya, insya Allah akan mendapatkan pahala dan surga.
3. Mempertemukan Ilmu dan Amal
Majelis taklim berfungsi mendekatkan alim (orang yang mengajar) dan muta'allim (orang yang pembelajar). Keduanya akan masuk surga karena "berserikat" dalam kebaikan. Untuk "menyatukan" mereka, perlu ada lembaga seperti universitas, lembaga penelitian, dan sebagainya.
4. Menyikapi Pejabat Korup
Kita tidak harus taat kepada pejabat yang korup. Perintah Al-Quran untuk taat kepada pemimpin atau umara' berlaku apabila mereka masih mentaati Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah: "Athi-ullah, wa athi-urrasulu, wa ulil amri minkum" (Taatlah kepada Allah SWT, taatlah kepada Rasululah SAW, dan kepada para pemimpin kamu sekalian). Jika pemimpin melakukan maksiat dan korupsi, kita tidak perlu taat kepada mereka.
5. Perang dan Konflik Timur Tengah
Setidaknya, hati kita harus mendukung upaya pencegahan genosida di Palestina. Jangan karena kita Sunni berbeda dengan Syiah Iran, lalu kita diam. Ingat salah satu Shalawat Asyghil: "Allahumma asyghilidz dzalimin bin dzalimin" (Ya Allah, hancurkan orang zalim dengan zalim lainnya). Bahkan, sekarang Muhammad bin Salman (MBS) pun secara terus terang telah mendukung tindakan Iran untuk menghancurkan kezaliman.
6. Usaha dan Takdir Allah SWT
Ajaran Islam mengajarkan bahwa meskipun takdir dan umur kita telah ditentukan oleh Allah SWT, jika kita sakit, kita harus berobat. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jangan membiarkan diri dalam kerusakan dengan alasan takdir kematian telah ditentukan Allah SWT. Membiarkan diri "rusak dalam kehancuran" juga termasuk perbuatan dosa. Perhatikan perkataan Umar bin Khattab RA yang bisa kita jadikan pegangan: "Mari rebut takdir kita yang baik." Kita dianjurkan untuk merebut takdir-takdir yang terbaik, bukan tidak berusaha atau hanya diam saja.
Penutup Doa
Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kifarat majelis: "Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika."
Artikel Terkait
Perpustakaan Digital Pustaka Azzam Hadirkan Ratusan Koleksi Kitab Terjemahan Lengkap
Sekapur Sirih 7 Hari Wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri
Kajian Islam Jadi Wisata Religi, Kenapa Tidak?
Mutiara Pagi: Tetaplah Menyala (Bagian 1880)
Perkuat Peran Strategis Alumni, PP IKA UIN SGD Bandung Gelar Rapat Kerja
Kesempatan Karir di Industri Perjalanan Spiritual, Dibutuhkan Sales dan Marketing untuk Travel Umroh di Bandar Lampung
Kang Dedi Mulyadi: Pemimpin Kreatif yang Hadir, Mendengar, dan Menginspirasi Lewat Konten Digital
Mutiara Pagi: Jejak (Bagian: 1881)
Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berpikir Soal Iran dan Palestina
Mutiara Pagi: Lintasan Hati (Bagian 1882)