Merajut Keimanan dan Membangun Kemaslahatan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 25 Juni 2025 | 14:00 WIB
Gambar ilustrasi Sujud Sahwi (pexels.com/@Alena Darmel)
Gambar ilustrasi Sujud Sahwi (pexels.com/@Alena Darmel)

2. Memelihara Sifat Ketakwaan dan Takut-Tunduk kepada Allah SWT

Cinta, taat, dan takut kepada Allah SWT adalah langkah awal untuk mencapai derajat "khash-yah". Pedagang dan pejabat pun tetap harus senantiasa ingat kepada Allah SWT. Orang-orang yang mempertahankan identitas keislamannya, insya Allah akan mendapatkan pahala dan surga.

3. Mempertemukan Ilmu dan Amal

Majelis taklim berfungsi mendekatkan alim (orang yang mengajar) dan muta'allim (orang yang pembelajar). Keduanya akan masuk surga karena "berserikat" dalam kebaikan. Untuk "menyatukan" mereka, perlu ada lembaga seperti universitas, lembaga penelitian, dan sebagainya.

4. Menyikapi Pejabat Korup

Kita tidak harus taat kepada pejabat yang korup. Perintah Al-Quran untuk taat kepada pemimpin atau umara' berlaku apabila mereka masih mentaati Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah: "Athi-ullah, wa athi-urrasulu, wa ulil amri minkum" (Taatlah kepada Allah SWT, taatlah kepada Rasululah SAW, dan kepada para pemimpin kamu sekalian). Jika pemimpin melakukan maksiat dan korupsi, kita tidak perlu taat kepada mereka.

5. Perang dan Konflik Timur Tengah

Setidaknya, hati kita harus mendukung upaya pencegahan genosida di Palestina. Jangan karena kita Sunni berbeda dengan Syiah Iran, lalu kita diam. Ingat salah satu Shalawat Asyghil: "Allahumma asyghilidz dzalimin bin dzalimin" (Ya Allah, hancurkan orang zalim dengan zalim lainnya). Bahkan, sekarang Muhammad bin Salman (MBS) pun secara terus terang telah mendukung tindakan Iran untuk menghancurkan kezaliman.

6. Usaha dan Takdir Allah SWT

Ajaran Islam mengajarkan bahwa meskipun takdir dan umur kita telah ditentukan oleh Allah SWT, jika kita sakit, kita harus berobat. Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jangan membiarkan diri dalam kerusakan dengan alasan takdir kematian telah ditentukan Allah SWT. Membiarkan diri "rusak dalam kehancuran" juga termasuk perbuatan dosa. Perhatikan perkataan Umar bin Khattab RA yang bisa kita jadikan pegangan: "Mari rebut takdir kita yang baik." Kita dianjurkan untuk merebut takdir-takdir yang terbaik, bukan tidak berusaha atau hanya diam saja.

Penutup Doa

Mari kita tutup pengajian kita dengan doa kifarat majelis: "Subhaanaka allahumma wa bihamdika. Asy-hadu an(l) laa ilaaha illaa anta. Astaghfiruka wa atuubu ilaika."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X