Mempelajari Ayat-ayat Kauniyah: Pelajari ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta. Baik ayat-ayat tanziliyah (Al-Quran) maupun kauniyah (alam semesta) harus dipelajari untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sejarah Islam mencatat banyak ulama dan ilmuwan berkualitas tinggi yang sekaligus dekat dengan Allah SWT. Tidak ada pemisahan antara ilmu dunia dan akhirat. Sarjana-sarjana muslim zaman dahulu yang ahli kimia juga dekat dengan Allah SWT.
Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Jiwa): Manusia memiliki potensi kebaikan dan keburukan. Islam mengajarkan pentingnya pendidikan hati dan pembersihan jiwa. Sebagaimana firman Allah: "Qad aflaha man zakkaha, wa qad khaba man dassaha" (Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya).
Menurut Imam Al-Ghazali, ada sifat-sifat buruk manusia yang akan muncul jika tidak ada treatment pembersihan jiwa:
Sifat Bahaimiyah: Nafsu binatang, seperti makan, tidur, dan hubungan seksual.
Sifat Sabuiyah: Sifat binatang buas, senang menceritakan keburukan orang lain, dan senantiasa menerkam orang lain.
Sifat Syaitaniyah: Sifat-sifat setan yang senantiasa menggoda manusia dari berbagai arah. Kita dianjurkan untuk berlindung kepada Allah SWT dari godaan setan, bahkan saat masuk dan keluar WC sekalipun. Terkadang, manusia menjadi senang pada kepalsuan dan kepura-puraan karena godaan setan.
Bagaimana caranya melakukan tazkiyatun nafs? Pelajari Al-Quran dan Hadits, karena seluruh persoalan kehidupan dijelaskan lengkap di dalamnya.
Aktif Bekerja dan Tawakkal: Kunci Rezeki Halal
Makna kedua dari tafsir ayat-ayat Surat Al-Mulk ini adalah kewajiban kita untuk aktif bekerja dan bergerak di muka bumi. Allah SWT menciptakan bumi dan seisinya agar dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebutuhan manusia. Bangun etos kerja dan ikhtiar sebaik-baiknya, karena Allah SWT akan memberikan rezeki yang halal dan baik. Setiap orang yang bekerja dan bergerak pasti akan mampu memperoleh makan.
Ayat tersebut menggunakan kata sambung "waw" pada frasa "Fi manakibiha wa kulu min rizki" (maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya), menunjukkan bahwa Allah SWT pasti akan memberikan rezeki. Dahulu, orang-orang pagi-pagi pergi ke sawah untuk bekerja, baru kemudian sarapan. Hal ini sangat jelas menunjukkan bahwa ikhtiar tidak menafikan tawakkal.
Ingat kisah Umar bin Khattab RA ketika bertemu beberapa orang yang hanya diam menunggu rezeki. Umar bertanya, "Siapa kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang yang tawakkal." Umar kemudian melanjutkan, "Anda bukan orang tawakkal. Orang yang tawakkal adalah orang yang membawa alat (bekerja, menanam di bumi), kemudian tawakkal. Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang bertawakkal."
Tanya Jawab Seputar Kehidupan dan Keimanan
Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dijawab dalam Ta'lim Bakda Subuh ini:
1. Menjaga Gesekan dalam Pergaulan
Jangan takut dengan gesekan atau perbedaan dalam pergaulan, itu normal dalam hubungan antar sesama manusia. Ajaran Islam melarang hasad, dengki, dendam, dan menganjurkan saling memaafkan. Dalam rumah tangga pun, perbedaan dan gesekan pasti ada, tetapi tidak perlu dibesar-besarkan.
Artikel Terkait
Perpustakaan Digital Pustaka Azzam Hadirkan Ratusan Koleksi Kitab Terjemahan Lengkap
Sekapur Sirih 7 Hari Wafatnya Hj. Euis Nurlaila binti KH. Idam Damiri
Kajian Islam Jadi Wisata Religi, Kenapa Tidak?
Mutiara Pagi: Tetaplah Menyala (Bagian 1880)
Perkuat Peran Strategis Alumni, PP IKA UIN SGD Bandung Gelar Rapat Kerja
Kesempatan Karir di Industri Perjalanan Spiritual, Dibutuhkan Sales dan Marketing untuk Travel Umroh di Bandar Lampung
Kang Dedi Mulyadi: Pemimpin Kreatif yang Hadir, Mendengar, dan Menginspirasi Lewat Konten Digital
Mutiara Pagi: Jejak (Bagian: 1881)
Felix Siauw yang Culas: Membongkar Kesesatan Berpikir Soal Iran dan Palestina
Mutiara Pagi: Lintasan Hati (Bagian 1882)