5 Hal Ikhwal Saling Mengingatkan Antar Sesama

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 13 Maret 2025 | 12:36 WIB
Ilustrasi teman  (pexels)
Ilustrasi teman (pexels)


Oleh: Agung Wibawanto

Agama Islam merupakan agama nasihat, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw, bahwa ad-dinu an-nasihat "agama adalah nasihat". Sehingga umat Islam dianjurkan untuk memberi nasihat kepada sesama muslim dan mengingat dalam kebaikan. Dan hal tersebut sebenarnya kewajiban bagi umat muslim. 

Namun demikian, menasehati atau mengingatkan kepada sesama haruslah memperhatikan etika atau adab. Mengapa, karena kita mengharapkan maslahat darinya. Apabila salah menyampaikan nasehat maka yang ada justru munculnya kemudaratan. Nasehat haruslah manfaat bukan memperbanyak mafsadat.

1. Niat yang ikhlas.
Niat adalah segalanya dalam Islam. Sebelum memberi nasihat, pastikan niat tulus karena Allah, bukan untuk merendahkan atau mencari keuntungan pribadi. Niat yang baik akan membawa keberkahan dalam nasihat yang diberikan. Dengan begitu kita tidak pernah takut atau sungkan untuk mau mengingatkan.

2. Siapapun boleh menasehati.
Dalam memberi dan menerima nasehat (pengingat), siapapun boleh melakukannya sepanjang itu merupakan ajakan kebaikan. Mengapa, karena tidak ada manusia yang sempurna bahkan tiap insan itu tempatnya salah dan khilaf. Jadi setiap kita bisa melakukan salah atau kesalahan.

Ada pepatah Arab mengatakan "undur ma qala wala tandur manqola". Artinya "lihatlah apa yang disampaikan, jangan lihat siapa yang menyampaikan". Serta sabda nabi yang paling populer, "ballighuni walau ayat", artinya "sampaikan dariku meski hanya satu ayat.” Ekstrimnya, seorang ahli maksiat dan gila sekalipun jika benar, bukan masalah.

3. Beragam bentuk.
Mengingatkan dalam Islam dapat berbentuk apapun, misal dengan mengajak (ikut ibadah) secara langsung, menasehati dalam obrolan, membuat sebuah tulisan, dakwah, menyanyikan syair lagu, puisi dll. Intinya sesuatu jika mengandung ajakan kebaikan kepada sesama muslim berarti memberi nasihat. 

Merujuk dari Hadis Arbain ke-34 yang artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”

4. Perhatikan konteks dan konten.
Saat mengingatkan atau menasehati ada baiknya memperhatikan konteks yakni terkait waktu dan tempat. Selain itu juga perhatikan konten atau isi dari nasehat yang disampaikan. Memberi nasehat kepada teman dekat di warung wedangan tentu berbeda dengan kepada khalayak di sebuah pengajian, misalnya.

Gunakan bahasa yang sederhana, santun dan komunikatif. Tidak berkesan menggurui, tidak memaksa, dan jika perlu disampaikan dalilnya (jika ada). Artinya, yang kita sampaikan adalah suatu fakta kebenaran, bukan karangan semata. Mau mendengarkan dan menerima jika diingatkan kembali.

5. Tidak mudah putus asa.
Terkadang nasehat yang diberikan seperti tidak mempan atau tidak berpengaruh. Maka jangan pernah berputus asa untuk terus mengingatkan. Karena siapa tahu jika terus-menerus diingatkan orang tersebut bisa luluh. Tapi bisa juga sebaliknya malah melakukan penolakan keras.

Jika sudah dirasa mentok, jangan sekali-kali kita memaksa terlebih menghakiminya, apalagi sampai memutus silaturahmi. Tugas kita semata mengingatkan, bukan memberinya hidayah. Karena hidayah merupakan kuasaNya. Tidak ada manusia yang bisa bahkan Nabi Muhammad SAW sekalipun.

Sebagaimana firman Allah,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al Qashash/28 : 56)q

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X