Oleh: Mohamad Sinal
D. Zawawi Imron adalah sang penyair dari Pulau Garam Madura. Penyair dengan julukan si _“Celurit Emas”_ serta budayawan dan ulama yang tak pernah kering menebarkan aroma kearifan (lokal) meski kemarau hidup memangsa cakrawala, ungkap Muhammad Sabri (Direktur Pengkajian BPIP). Karya-karyanya kerap membawa suara dari desa yang sunyi. Suara alam yang selama ini terpinggirkan oleh bisingnya wacana kekuasaan.
Puisi-puisinya adalah nyala lentera dalam gelap, membakar keangkuhan para penguasa yang menutup mata dan telinga terhadap jeritan rakyat kecil. Dengan bahasa yang lirih namun tajam, ia menyentuh luka-luka sosial: kemiskinan yang terpinggirkan, ketidakadilan yang dibisukan, dan kesenjangan yang dibiarkan menganga.
Dalam puisi yang berjudul _“Puisi Pagi Ini”_, D. Zawawi Imron tidak hanya menulis, tetapi ia juga menggugat. Dalam setiap metafora yang dipilihnya, ada keberanian menolak tunduk pada ketidakadilan yang merajalela. Oleh sebab itu, puisi tersebut bagaikan pisau yang mengiris ketidakpekaan, mengungkap kebenaran yang seringkali diselimuti retorika manis. Jadi, ia menulis bukan sekadar untuk keindahan, melainkan untuk membebaskan dan menggemakan suara-suara yang dipadamkan.
Ia meracik kata dengan keikhlasan seorang pejuang (pena). Dalam bait-baitnya, terpantul cinta yang tulus pada tanah air, pada nilai-nila kemanusiaan yang terpinggirkan, dan keadilan yang terabaikan. Setiap kata yang ia rangkai adalah sebuah protes, namun penuh estetika yang membuat pembacanya merenung, bukan sekadar tersentak. Ia menulis bukan dengan tinta hitam biasa, melainkan dengan air mata dan bara yang berkobar dalam jiwanya:
*PUISI PAGI INI*
Sebuah kota menjerit pagi ini
Ketika di balik baju perlente
Ada bolpen menjelma linggis
Ketika kemewahan berhati nanah
Kualihkan mataku ke kampung nun jauh
Nyanyian tak bersuara sedang merawat ayat-ayat keringat
Ternyata kiblat adalah jejak pahlawan
Jejak seorang pejuang yang dilupakan
Atau jejak para pencangkul bumi penanam benih
Yang sudah jadi pahlawan sebelum mati
(*D. Zawawi Imron, Januari 2025*)
Puisi tersebut menggambarkan realitas sosial yang penuh dengan kontras antara kemewahan yang penuh kepalsuan dan kesederhanaan yang sarat makna perjuangan. Ia menjelma menjadi saksi bisu atas berbagai ketidakadilan yang terjadi. D. Zawawi Imron melukiskannya sebagai berikut: “Sebuah kota menjerit pagi ini”. Kota, yang diidentikkan dengan pusat kemewahan dan modernitas sedang mengalami permasalahan moral atau krisis nurani. "Menjerit" akibat penderitaan atau ketidakadilan yang tersembunyi di balik gemerlapnya kekuasaan dan keserakahan.
Semua itu terjadi karena "Ketika di balik baju perlente / Ada bolpen menjelma linggis", yakni orang-orang berpenampilan rapi (perlente) yang seharusnya menjadi teladan, justru menggunakan kekuasaan atau pengetahuannya dengan cara merusak dan mencederai keadilan. "Bolpen" yang melambangkan intelektualitas (kaum terdidik) atau kekuasaan administratif, menjelma menjadi "linggis", alat yang digunakan untuk merusak atau menjarah secara simbolis.
Kemewahan yang ada bukan berasal dari kebaikan, tetapi dari hasil ketidakjujuran atau ketidakadilan, sehingga mereka "berhati nanah" yang mengandung kebusukan dan penyakit: "Ketika kemewahan berhati nanah". Ungkapan tersebut (baca: baris) menggambarkan bahwa ketika yang lain memilih diam dalam nyaman, ia memilih menggugat dengan aksara. Bukan dengan teriakan, namun dengan keheningan yang menusuk, menggugah nurani yang barangkali lupa akan arti keadilan yang sejati.
Penyair mengalihkan perhatian dari kota yang penuh kepalsuan menuju kampung yang sederhana namun penuh ketulusan: "Kualihkan mataku ke kampung nun jauh". Kehidupan di kampung yang diisi dengan kerja keras dalam diam: “Nyanyian tak bersuara”. Serta kerja keras yang dilakukan dengaan penuh ketulusan dan perjuangan: “Ayat-ayat keringat”.
Artikel Terkait
Polisi Pelayan dan Pengayom Masyarakat atau Pembuat Celaka?
Pose Cantik Angel Karamoy Bikin Mata Gak Mau Berkedip
Pesan Alam dan Kehidupan dibalik Rahasia Menakjubkan
Bangsa yang Diberaskan!
Sejarah Stasiun Arjawinangun
Mutiara Pagi: Ada Cahaya Keadilan (Bagian 1734)
Bahasa Politik Swasembada Beras
Mutiara Pagi: Keadilan (Bagian 1735)
Berdandan Juga Harus Jujur
Investasi Terbesar dan Warisan Tak Ternilai yang Mengguncang Keabadian!