Keadilan kini menjelma ilusi
Mengapung di lazuardi
Terbang dan melayang jauh
Meninggalkan hati yang nyaris rapuh
Semua berharap ia berdiri tegak
Di atas singgasana kebenaran
Namun keberanian menolak berkata tidak
Terbungkus oleh kabut kepentingan
Ia tak lagi menjadi milik semua
Melainkan menjadi hak istimewa
Diperjualbelikan dalam ruang-ruang senyap
Sehingga tak hadir sebagai cahaya dalam gelap
Di lorong-lorong sempit kota
Tangis anak negeri menggema
Bukan lapar yang tak kunjung reda
Melainkan ia tahu harapannya hanya sia-sia
Keadilan tak ubahnya permainan catur
Rakyat kecil hanya layak untuk dikubur
Demi menyelamatkan mereka dan kroninya
Agar duduk nyaman di atas singgasana
Semoga keadilan masih bisa kembali
Di tangan para pejuang hati nurani
Menjadi bahasa universal
Menghiasi pikiran dan akal
Malang, 8 Januari 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Resmi Demisioner Fauzi Rohmat, M. Agung Febriansyah Terpilih Sebagai Ketua Dewan Racana Abdullah Bin Nuh
Tabah Sampai Akhir: Pembekalan Pra Pendidikan JABAL Al-Azhary Cetak Calon Pecinta Alam Tangguh
Mutiara Pagi: Zaman Edan (Bagian 1733)
Kajian Teknik Persidangan, Bukti Komitmen Rayon Tarbiyah Tingkatkan Kualitas Kader
Polisi Pelayan dan Pengayom Masyarakat atau Pembuat Celaka?
Pose Cantik Angel Karamoy Bikin Mata Gak Mau Berkedip
Pesan Alam dan Kehidupan dibalik Rahasia Menakjubkan
Bangsa yang Diberaskan!
Mutiara Pagi: Ada Cahaya Keadilan (Bagian 1734)
Bahasa Politik Swasembada Beras