Zaman edan bukan dongeng masa silam
Yang dilukis dengan warna muram
Kini jadi denyut nadi penuh kegelisahan
Suara detaknya terdengar seperti keluhan
Zaman edan,
_sapa sing ora edan ora keduman_
Telah menjelma bagai arus deras
Di tengah jagat yang terus meluas
Keadilan, opini yang diperdagangkan
Kebenaran, hanya menjadi slogan
Terpinggirkan dari panggung kehidupan
Akibat hati dan pikiran penuh keserakahan
Kegilaan menjadi tiket bertahan hidup
Nalar dan logika telah dikubur hidup-hidup
Sebuah metafora pilu tentang zaman
Akibat hati dipenuhi oleh kerapuhan
Seolah-olah tak ada lagi kamu
Yang ada hanyalah aku
Seakan-akan tak ada lagi kita
Yang ada tindakan membabi buta
Nafsu keserakahan di dalam dada
Menutup mata dan telinga yang ada
Sehingga saat terlihat di layar kaca
Masih bisa tersenyum atau tertawa
Namun zaman edan, bukanlah akhir
Hanya meminta kita untuk berpikir
Mengapa waras di tengah kegilaan
Harus dibayar dengan keterasingan
Malang, 6 Januari 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
4 Mahasiswa Menang Gugatan di MK: Parpol Bisa Usung Capres Sendiri
Swasembada Pangan Kunci Ketahanan Pangan
Apa yang Allah Inginkan Saat Kita Stres?
Gunung Kilimanjaro Tertinggi di Afrika
Profesi Paling Dipercaya, Guru hingga Pejabat Siapa Paling Unggul?
Dari Mahasiswa untuk Mahasiswa, Ucapan Terima Kasih dari Presiden Mahasiswa Terpilih STAI Al-Azhary Cianjur
Mutiara Pagi: Anak Zaman (Bagian 1732)
Rapat Pleno Tengah Racana Abdiningrat: Dari Evaluasi Hingga Arah Baru Kepemimpinan
Resmi Demisioner Fauzi Rohmat, M. Agung Febriansyah Terpilih Sebagai Ketua Dewan Racana Abdullah Bin Nuh
Tabah Sampai Akhir: Pembekalan Pra Pendidikan JABAL Al-Azhary Cetak Calon Pecinta Alam Tangguh