Oleh: Nanang Gojali (Lektor Kepala Teologi FISIP UIN SGD Bandung)
Dajjal (D) dan Ya'juj dan Ma'juj (Y-M) adalah dua entitas yang menggambarkan sisi kejahatan, kebatilan, dan kedzaliman. Sedangkan Imam Mahdi (IM) dan Nabi Isa (NI) mewakili sisi kebaikan, kebenaran dan keadilan.
Dalam Eskatologi Islam, kedua sisi ini memiliki dimensi harfiah/tekstual/muhkamat/eksplisit, maupun maknawi/simbolik/mutasyabihat/implisit sekaligus. Karena itulah, metode yang tepat dalam mempelajari aktor-aktor utama akhir zaman serta fenomenanya, adalah metode tekstual-kontekstual, sebuah pendekatan yang menggabungkan kekuatan pemahaman tekstual dan kontekstual.
Al-Qur'an tidak menyebut D secara langsung, tapi menyebutnya secara simbolik sebagai "jasad" dalam Surat Shad, dan sebagai "bayangan" dalam Surat Al-Mursalat. Fenomena "Jasad" dan "bayangan" memang hanya cocok dengan deskripsi dalam Hadits-hadits tentang D.
Sedangkan Y-M disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an sebanyak dua kali, yaitu dalam Surat Al-Anbiya dan Surat Al-Kahfi
Namun D dan Y-M disebutkan secara eksplisit dalam banyak Hadits. Jumlah Hadits D dan Y-M bervariasi tergantung pada sumber dan metode klasifikasi yang digunakan oleh ulama. Berikut ini adalah ringkasan berdasarkan berbagai sumber:
Hadits tentang Dajjal (D) diperkirakan ada sekitar 200-300 hadits dalam berbagai derajat kesahihan. Hadits Shahih banyak terdapat dalam kitab shahih seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Contohnya:
"Tidak ada satu pun Nabi kecuali ia telah memperingatkan umatnya tentang Dajjal." (Sahih Bukhari, 7127; Sahih Muslim, 2933).
Beberapa hadits tentang Dajjal, terutama detail-detail spesifik mengenai ciri fisiknya, lokasinya, atau tanda-tandanya, memiliki derajat hasan atau dhaif. Namun, banyak ulama tetap memanfaatkan hadits ini dalam konteks eskatologi karena topiknya yang signifikan.
Hadits tentang Ya'juj dan Ma'juj (Y-M) diperkirakan ada sekitar 50-70 hadits, termasuk yang bersifat implisit. Hadits Shahih sebagian besar bersumber dari Sahih Muslim, seperti:
"Ya'juj dan Ma'juj sedang menggali dinding, dan ketika mereka hampir selesai, mereka berkata, ‘Besok kita akan menyelesaikannya.’ Namun, mereka lupa mengatakan ‘Insya Allah.’” (Sahih Muslim, 2937).
Beberapa hadits yang membahas detail tentang tindakan mereka atau waktu kemunculannya memiliki derajat hasan atau dhaif.
Dalam kajian eskatologi, banyak ulama yang menerima hadits dhaif jika tidak bertentangan dengan hadits shahih atau prinsip Islam lainnya, mengingat tema akhir zaman banyak mengandung unsur ghaib.
Artikel Terkait
Hawa Nafsu
Ole Romeny, Diaspora yang Selangkah Lagi Jadi WNI
Apakah Keyakinan Agama Itu Menghambat atau Memotivasi Perkembangan Sains?
Dialog antar Komunitas Agama dan Konflik Timur Tengah
Kolaborasi Akademik, Prodi MD Gelar Visiting Class ke Lembaga Dakwah
Mutiara Pagi: Harapan (Bagian 1715)
Menggali Esensi Kepedulian Autentik
Mahasiswa sebagai Penggerak Peradaban: Fungsi dan Tanggung Jawabnya
Silaturahim PC IKA PMII Cianjur: Refleksi Akhir Tahun, Dorong Pemanfaatan APBD untuk Kesejahteraan Masyarakat
Pelajaran Penting dari Peristiwa Tanah Syaam