Pelajaran Penting dari Peristiwa Tanah Syaam

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 20 Desember 2024 | 07:22 WIB
Situs Bangunan Arkeologi di Kota Damaskus Suriah.  (Tangkap Layar YouTube/InvoiceIndonesia)
Situs Bangunan Arkeologi di Kota Damaskus Suriah. (Tangkap Layar YouTube/InvoiceIndonesia)

Oleh: Imam Shamsi Ali

Jujur sebagian dari catatan ini terinspirasi oleh sebuah khutbah Jumat yang disampaikan oleh Sheikh Yasir Qadhi beberapa hari lalu. Saya merasa perlu menyampaikan catatan ini dengan sedikit contetan dari khutbah Syeikh Yasir karena peristiwa pembebasan Suriah dari cengkraman tirani Al-Asad dan genosida di bumi Palestina memiliki makna-makna yang sangat penting untuk kita renungi. Apalagi jika peristiwa ini ditarik ke ranah teologis (keimanan) dan keislaman kita.

Dalam beberapa haditsnya Rasulullah SAW menyampaikan beberapa keistimewaan dan keutamaan tanah “Syaam”, baik berkaitan dengan al-batholah (heroisme) iman, terkhusus lagi beberapa hal yang terkait dengan kejadian-kejadian akhir zaman. Tanah Syaam (Suriah, Jordan, Palestina) memilki kedudukan yang Istimewa dan khusus.

Tapi yang ingin saya sampaikan secara ringkas kali ini adalah tujuh pelajaran penting yang dapat diambil dari kekerasan-kekerasan yang terjadi di tanah Syaam. Saya yakin pelajaran-pelajaran ini sangat penting untuk kita semua, baik dalam interaksi antara penguasa dan rakyatnya ataupun interaksi di antara sesama rakyat.

Ada tujuh pelajaran penting yang ingin saya garis bawahi di catatan ini.

Satu, bahwa dunia ini memang tidak sempurna. Akan penuh dengan kekurangan, bahkan kekerasan, pengrusakan, pembunuhan dan pertumpahan darah. Bukankah hal ini memang menjadi kekhawatiran para malaikat ketika itu?

Allah berfirman: “Dan ingatkan ketika Tuhanmu berkata: sesungguhnya Aku menciptakan di atas bumi ini seorang khalifah. Mereka (malaikat) berkata: “Apakah Engkau menciptakan siapa yang akan melakukan pengrusakan dan pertumpahan darah di atasnya? Allah berkata: “sesungguhnya Aku lebih tahu apa-apa yang kalian tidak ketahui”.

Realita inilah yang kita saksikan mungkin pada skala kecil di Gaza dan apa yang terbuka dengan nyata di hadapan mata kita di Suriah. Sungguh dunia penuh dengan kekerasan, pengrusakan dan pertumpahan darah sebagai bukti dari kekhawatiran para malaikat itu.

Dua, bahwa keadilan mutlak tak akan selamanya didapatkan di dunia ini. Banyak kezholiman yang tidak mendapatkan balasan. Banyak yang terzholimi tidak mendapatkan hak dan keadilan yang selayaknya.

Karenanya sangat wajar jika orang-orang beriman meyakini secara penuh adanya hari kepastian, termasuk kepastian hukum dan keadilan. Kita meyakini Allah sebagai Penguasa Hari Penghisaban (maalik yaumuddin) akan menegakkan keadilan itu secara mutlak.

Kekejaman-kekejaman yang dilakukan kaum zholim baik di Palestina, Suriah dan lain-lain itu tidak sepenuhnya, bahkan mungkin tidak sama sekali, terbalas di dunia ini. Tapi kita percaya, Tuhan Yang Maha Adil akan menegakkan keadilan di Hari yang pasti itu. Allah memastikan: “Apakah Kami akan perlakukan sama orang yang jahat dan orang Muslim?”.

Tiga, membuktikan kemuliaan Rasulullah SAW dalam hidup dan kepemimpinannya. Beliau memimpin umat, menaklukkan tanah kelahirannya kembali setelah diusir dan hijrah. Namun dalam kepemimpinan beliau tidak ada dendam, kekejaman, pembunuhan dan pengrusakan. Bahkan peristiwa Fathu Makkah menjadi saksi sejarah kemuliaan dan kasih sayang beliau untuk seluruh semesta (rahmatan lil-alamin).

Apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, dari Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, Libia, dan Gaza Palestina adalah kontra nyata dengan kehidupan agung Rasulullah SAW. Apalagi yang melakukan kekejaman dan kezholiman itu adalah mereka yang mengaku paling terdidik dan beradab (civilized) bahkan mengaku sebagai pejuang HAM (Human rights champions).

Empat, bahwa kezholiman itu bagaimanapun besar dan lamanya di dunia ini pasti berakhir. Berbagai ayat dalam Al-Quran menggariskan bahwa kezholiman berakhir pada waktunya bagaimanapun kuatnya. Sejarah manusia silih berganti dan selamanya kezholiman akan berada di pihak yang tereliminirkan.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Hawa Nafsu

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X