Diskusi pun menukik lebih dalam lagi. Sampai ke soal hidup sesudah mati. Sampai surat Al Baqarah dalam Alquran. Kang Deden banyak hafal ayat-ayatnya.
Di situ ustaz mengajarkan banyak bertanya itu tercela. Seperti cerewet. Dianggap buruk seperti Israel. Diperintah sembelih sapi saja masih bertanya. Sapinya jantan atau betina. Apa warna kulitnya.
Stop. Jangan diteruskan. Bisa murtad. Toh Anda bisa berpikir sendiri di mana hulu dari lemahnya critical thinking itu.
Dan lagi sudah terlalu panjang. Saya masih harus segera mencoba naik taksi tanpa pengemudi. Mumpung di San Francisco. Keburu sore.
Masih akan ada diskusi dengan diaspora pukul 17.00. Masih ada makan malam di rumah Marissa di San Bruno. Ahli-ahli dari MIT asal Afrika Selatan akan gabung di makan malam itu.
Artikel Terkait
Pertolongan dan Perlindungan Allah
Kemenangan Presiden AS Donald Trump Adalah Pelajaran untuk Demokrat
Bangsa yang Lapar
Tjiandjoer dalam Logo Hindia Belanda (Loh Djinawi-Sugih Mukti)
Tjiandjoer dan Thariqoh Tijaniyah
Mutiara Pagi: Dari Teluk Tokyo (Bagian 1675)
Yuhu, Kereta Api BIAS Kini sampai Madiun Lho!
MKKS Jabar Gelar Pertemuan, Bahas Soliditas dan Kondusifitas
Pilpres Amerika dan Perbedaan Ijtihad politik Komunitas Muslim
Mutiara Pagi: Dari Soekarno-Hatta (Bagian 1676)