Hikmah di Balik Pengakuan dan Taubat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 3 November 2024 | 04:45 WIB
Kunci Jawaban Soal Fikih Kelas VIII Bab I SUJUD SAHWI, SUJUD SYUKUR DAN SUJUD TILAWAH KMA 183 LENGKAP DENGAN PENJELASANNYA
Kunci Jawaban Soal Fikih Kelas VIII Bab I SUJUD SAHWI, SUJUD SYUKUR DAN SUJUD TILAWAH KMA 183 LENGKAP DENGAN PENJELASANNYA

Oleh: Munawir

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي لَقِيتُ امْرَأَةً فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ، فَأَصَبْتُ مِنْهَا كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا أَنِّي لَمْ أَجْمَعْهَا، فَأَنَا هَذَا، فَاقْضِ فِيَّ مَا شِئْتَ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ اللَّهُ لَوْ سَتَرْتَ عَلَى نَفْسِكَ. فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا. فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ، فَأَتْبَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا دَعَاهُ، وَتَلَا عَلَيْهِ: وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ (هود: ١١٤) فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، هَذَا لَهُ خَاصَّةً؟ قَالَ: بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً."

Dari Abdullah bin Mas’ud RA, ia berkata:
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata, 'Wahai Rasulullah, aku bertemu dengan seorang wanita di ujung kota. Aku telah melakukan segala sesuatu dengannya kecuali berzina. Maka aku datang kepada engkau untuk meminta keputusan apa yang harus aku lakukan.' Mendengar hal itu, Umar RA berkata, 'Allah telah menutupi perbuatanmu, seandainya engkau menutupi diri sendiri.' Namun Nabi SAW tidak menanggapi perkataan Umar dan tidak berkata apa-apa kepada laki-laki tersebut. Kemudian laki-laki itu pergi. Nabi SAW lalu memerintahkan seseorang untuk memanggilnya kembali dan membacakan ayat berikut ini: 'Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada beberapa bagian dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.' (QS. Hud: 114). Salah seorang dari kaum itu bertanya, 'Wahai Nabi Allah, apakah ini khusus untuknya?' Beliau menjawab, 'Tidak, ini berlaku untuk seluruh umat manusia.'"?HR. Tirmidzi, no. 3111; Ahmad, 1:445)*

Latar Belakang Kisah

Kisah ini menggambarkan seorang laki-laki yang merasa berdosa setelah melakukan tindakan yang melanggar nilai moral, meskipun belum sampai melakukan zina. Dia sadar akan kesalahannya dan datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta solusi dan arahan.

Situasi ini menggambarkan betapa perasaan bersalah bisa menjadi dorongan kuat bagi seseorang untuk memperbaiki diri dan mencari pengampunan dari Allah.

Lalu Respon Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab; Ketika orang itu mengakui kesalahannya, Umar bin Khattab menasihatinya untuk menyembunyikan dosanya, mengingat Allah telah menutupi aibnya. Ini mengajarkan prinsip penting dalam Islam mengenai penutupan aib dan dosa pribadi, agar tidak menjadi fitnah atau contoh buruk bagi orang lain.

Namun, Rasulullah SAW tidak langsung memberikan keputusan dan membiarkan laki-laki itu pergi, menunjukkan sikap bijaksana dalam menyikapi kejujuran dan kerendahan hati pelaku dosa.

Rasulullah SAW kemudian menyuruh seseorang memanggil kembali laki-laki itu dan membacakan ayat dari Surah Hud ayat 114:

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada beberapa bagian dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat."

Hadis ini mengandung beberapa pelajaran mendalam terkait dengan sikap manusia terhadap dosa, penyesalan, kesempatan bertaubat, dan peran ibadah dalam menghapus dosa. Uraiannya dapat ditinjau dari beberapa aspek berikut:

1. Pengakuan Dosa dan Penyesalan
Hadis ini menunjukkan bahwa pengakuan dosa yang disertai dengan penyesalan dapat menjadi pintu menuju pengampunan.

Laki-laki dalam hadis ini mengakui kesalahannya dan merasa menyesal, yang mendorongnya untuk mencari keputusan dari Rasulullah SAW. Sikap ini sesuai dengan prinsip Islam yang menekankan pentingnya taubat setelah melakukan dosa. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ"
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah?"
(QS. Ali 'Imran: 135)

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Mengambil Pelajaran dari Musibah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X