عن أبي هريرةَ رضي الله عنه عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((أعْذَرَ الله إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّينَ سَنَةً)). رواه البخاري.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam sabdanya :
"Allah tetap menerima uzur - alasan - seseorang yang diakhirkan ajalnya, sehingga ia berumur enampuluh tahun." (Riwayat Bukhari)
Pelajaran yang terdapat dalam hadits:
1️⃣- Para ulama berkata bahwa maknanya itu ialah Alloh tidak akan membiarkan-tidak menerima-uzur seseorang yang sudah berumur enampuluh tahun itu, sebab telah dilambatkan oleh Alloh sampai masa yang setua itu.
2️⃣- Makna hadist bahwa udzur dan alasan sudah tidak ada, misalnya ada orang mengatakan, “Andai usiaku dipanjangkan, aku akan melakukan apa yang diperintahkan kepadaku.”
3️⃣- Ketika dia tidak memiliki udzur untuk meninggalkan ketaatan, sementara sangat memungkinkan baginya untuk melakukannya, dengan usia yang dia miliki, maka ketika itu tidak ada yang layak untuk dia lakukan selain istighfar, ibadah ketaatan, dan konsentrasi penuh untuk akhirat.
(Fathul Bari, 11/240).
4️⃣- Hadis di atas tidak bisa kita pahami sebaliknya, bahwa orang yang usianya di bawah 60 tahun, berarti dibolehkan untuk menunda ketaatan dan taubat. Maksud hadis, mereka yang telah mencapai usia 60 tahun, seharusnya lebih banyak konsentrasinya diarahkan untuk akhirat, dan mulai mengurangi kesibukan dunia.
Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran:
1️⃣- Pada hari kiamat kelak, penghuni neraka meminta kepada Alloh agar mereka dikeluarkan dari neraka dan dikembalikan ke dunia agar bisa beramal baik, tidak seperti amal kekufuranya yang dulu.
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ
Mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal saleh tidak seperti amalan yang telah kami kerjakan (kekufuran).”
Allah menjawab permintaan mereka dengan berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا
Artikel Terkait
Peresmian Istana Negara di Ibu Kota Nusantara
Menggugat Tata Ruang Pertanian
Rebutan Panggung
Siksaan yang Paling Ringan di Neraka
Tidak Sadar untuk Bersyukur
Waspadai Defisit Pahala
Perum Bulog Peduli Gizi
Yuk Hadir ke Acara Monolog Tjitjih Wiarsih (Juag Tjitjih)
Mutiara Pagi: Takdir (Bagian 1641)
Dahulukan Adab Sebelum Ilmu