Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja) sendiri adalah teologi klasik yang telah melembaga di lingkungan NU. Klaim ini secara normatif berakar dari berbagai riwayat hadis Nabi tentang firqah umat Islam sepeninggal Nabi. Seperti juga disinggung dalam salah satu hadis, karakter utama dari kelompok ini adalah konsistensinya mengikuti sunnah-sunnah Nabi dan para sahabat atau salaf al-shalih (ma ana `alayh wa ashhabi).
Sebagai poros kaderisasi NU, PMII memiliki hubungan historis, sosiologis dan kultural dengan NU. Sebenarnya NU juga telah bergerak dari kesadaran ini dengan menyatakan Aswaja sebagai manhaj al-fikr. Hanya saja, masih perlu perumusan epistemologis yang lebih mapan tentang bagaimana aktualisasinya dalam berbagai dimensi kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, mapun bidang yang lainnya.
Artikel Terkait
Jangan Mudah Menyebarkan Setiap Berita
Aswaja dalam Lingkup PMII
Geger Tjiandjoer 1885
Marissa Haque, Sang Mujahidah!
Mutiara Pagi: Segera Diatasi (Bagian: 1.633)
Pentingnya Berorganisasi di PMII
Studi Gender dan Kelembagaan KOPRI PMII, Upaya Mewujudkan Kesetaraan dalam Gerakan Mahasiswa
Nilai Dasar Pergerakan di PMII
Aswaja dan PMII
Mutiara Pagi: Apa yang Mau Ditiru (Bagian: 1.634)