Cerita Pilu di Akhir Kekuasaan Jokowi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 28 September 2024 | 14:04 WIB

Namun kini makin berlarut di setiap isu penyerangan yang muncul. Lihat saja kasus fufufafa sebenarnya hal yang sangat receh (dilihat materinya), juga terkait dengan jet pribadi yang ditumpangi Kaesang dan Bobby. Pendukung setianya sekarang sibuk memberi alasan pembenar. Mereka menjelaskan. Sayangnya, materi penjelasan tidak sinkron yang membuat makin kacau dan aneh.

Fufufafa semula dianggap akun milik Gibran tapi sudah lama tidak dipakai karena lupa passwordnya, lalu digunakan orang yang tidak bertanggungjawab. Soal kapan mulai tidak dipakai tidak dijelaskan. Lalu berubah dikatakan itu bukan milik Gibran meski akun rekeningnya jelas atas nama Gibran (meski sudah diganti sebagai nama Slamet). Ini bukan soal materinya, melainkan substansinya yakni soal integritas.

Pemimpin yang baik akan selalu berani bersikap jujur mengakui. Gibran, misalnya, mengakui saja itu memang akun miliknya, lalu meminta maaf. Apa salahnya jika dulu (2014) Gibran menyerang Prabowo sebagai kompetitor Jokowi (bapaknya), tapi sekarang mendukung Prabowo? Toh juga banyak relawan Jokowi yang dulu memaki Prabowo tapi kini menjilatnya, seperti PSI?

Lihatlah Kaesang dan Gibran yang menghilang (tepatnya menghindar), namun pendukungnya yang sibuk menjawab mengklarifikasi. Nyaris semua orang kini memojokkan Jokowi dan keluarga. Sebaliknya orang-orang penting nan cerdas pendukung Jokowi justru diam. Prabowo diam, begitupun Airlangga, Zulhas dan Surya Paloh. Mereka tidak berani bersuara atas isu-isu yang menyerang Jokowi seputar IKN dan keluarga.

Budiman Sudjatmiko, Maruara Sirait, mereka bungkam atau memang sudah tidak dipakai lagi? Kasihan sebenarnya Jokowi, tapi itulah harga yang harus dibayarnya sebagai politisi yang memiliki hasrat berkuasa berlebih. Relawan dulu membayangkan akan anggun jika Jokowi turun saat masih berposisi di puncaknya. Sangat elegan ketika dia meninggalkan panggung di saat kebintangannya masih bersinar. Tapi kini terlambat sudah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X