Berjabat tangan memiliki keutamaan yang sangat agung dan pahala sangat besar. Berjabat tangan termasuk diantara penyebab terhapusnya dosa, sebagaimana dalam hadits :
عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا
Dari Barâ’ bin ‘Aazib Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: tidaklah dua orang Muslim bersua kemudian mereka bedua saling berjabat tangan kecuali diampuni (dosa) keduanya sebelum mereka berpisah.” ( HR. Abu dawud )
Orang yang pertama melakukan jahat tangan adalah penduduk Yaman yang terkenal dengan keimanan dan keilmuan mereka. Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu menyatakan :
لَمَّا جَاءَ أَهْلُ الْيَمَنِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ
Tatkala penduduk Yaman datang (ke Madinah) Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian penduduk Yaman, dan merekalah orang yang pertama sekali yang melakukan berjabat tangan.”[ HR. Abu Dawud )
Dalam riwayat lain Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ قَالَ فَقَدِمَ الْأَشْعَرِيُّونَ فِيهِمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَلَمَّا دَنَوْا مِنْ الْمَدِينَةِ جَعَلُوا يَرْتَجِزُونَ يَقُولُونَ : غَدًا نَلْقَى الْأَحــــِبَّهْ مُــحَمَّدًا وَحِـــزْبَهْ فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَةَ
Rasûlullâh n bersabda, ‘Besok akan datang kepada kalian kaum yang hati mereka lebih lembut untuk (menerima) Islam dari pada kalian.’ Anas mengatakan, ‘Maka datanglah kabilah Asy’ariyyun, diantara mereka ada Abu Musa al-Asy’ari. Tatkala mereka telah mendekati kota Madinah, mereka melantunkan sebagian sya’irnya seraya berkata, “Besok kita akan berjumpa dengan para kekasih, Muhammad dan shahabatnya”. Tatkala mereka telah datang mereka berjabatan tangan, merekalah orang yang pertama sekali melakukan jabat tangan ( HR Ahmad )
Sunnah berjabat tangan ketika bertemu dan juga ketika berpisah menurut mayoritas ulama, meskipun ada riwayat tidak dianjurkan berjabat tangan ketika berpisah agar dapat segera bertemu kembali .
Saya sering berjumpa yang mulia Alhabib Al musnid Prof Dr Abdullah bil Faqih, pengasuh pesantren Darul Hadist Alfaqihiyyah Malang.
Sahabat baik kakek saya alm KH Anwar Nur, beliau selalu tidak berkenan berjabat tangan ketika berpisah dan berkata agar kita segera saat berjumpa lagi, tradisi ini diwarisi para muridnya sampai saat ini.
Kalau salaman saja tidak dilakukan ketika berpisah, apa mungkin mau meminta minta ? Sungguh tuduhan semua habib ndawir adalah fitnah.
Jangan ada kebencian dan permusuhan sesama ummat islam, mari saling rukun dan berjabat tangan.
Artikel Terkait
Lukas Enembe, Stadion Megah di Papua
Pendidikan Karakter dan Manajemen Emosi
Sifat Hamba Allah yang Beriman Tawadhu
Mutiara Pagi: Yang Maha Pewaris (Bagian 1625)
Terbukti Menggelembungkan Suara, Aleg DPR-RI Tia Rahmania Dipecat DPP PDIP
Hiroshima University Berikan Gelar Doktor Kehormatan kepada Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang
Luar Biasa...Empat Profesor ITS Masuk Jajaran Top 2 Persen Scientist in the World 2024
Lagi, Tiga Investor Mulai Investasi di IKN
Sifat Hamba Allah yang Beriman, Berlemah Lembut dan Bertutur Kata yang Baik
Mutiara Pagi: Yang Maha Pandai (Bagian 1626)