JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR — Seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU) diimbau untuk senantiasa menjaga marwah dan kehormatan organisasi. NU sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar tidak boleh dijadikan sebagai alat untuk memuaskan kepentingan atau syahwat politik yang bersifat sementara.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Forum Silaturahmi Ulama (FORMULA) Kabupaten Cianjur, Syech Abdul Wahid Al Question. Ia mengingatkan bahwa NU memiliki sejarah panjang yang sangat luhur dalam menjaga persatuan bangsa.
Oleh karena itu, seluruh elemen di dalam jajaran struktural maupun kultural harus mengedepankan akhlak, persaudaraan Islam (ukhuwah), serta kemaslahatan umat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok politik tertentu.
Syech Abdul Wahid mengungkapkan, dirinya merasakan getaran spiritual yang mendalam ketika mendengar pidato Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang sempat melantunkan doa "Ya Jabbar, Ya Qahhar" dalam suatu kesempatan.
Menurut dia, doa tersebut merupakan pengingat yang kuat bagi warga nahdliyin untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT agar NU dijauhkan dari berbagai bentuk gangguan yang dapat mengancam persatuan dan kemandirian organisasi.
Ia memaknai doa tersebut sebagai alarm kewaspadaan bagi seluruh warga NU untuk meningkatkan kehati-hatian terhadap berbagai potensi luar yang dapat mengganggu keutuhan organisasi.
Dirinya berharap tidak ada pihak-pihak yang menyusupkan agenda di luar cita-cita orisinil organisasi (jam'iyah) sehingga berujung pada rusaknya marwah Nahdlatul Ulama.
"Marilah kita bersama-sama menjaga kehormatan Nahdlatul Ulama. Jangan sampai marwah organisasi yang telah dibangun oleh para pendiri (muassis) dan ulama selama puluhan tahun tercoreng hanya karena kepentingan atau syahwat politik yang bersifat sementara," ujar Abdul Wahid.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa NU harus tetap konsisten berdiri sebagai rumah besar umat Islam yang berpegang teguh pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurutnya, organisasi ini wajib menjaga persatuan antarkomponen bangsa dan menjauhkan diri dari pusaran konflik praktis yang berpotensi memecah belah warga di tingkat akar rumput.
Syech Abdul Wahid juga mengajak seluruh ulama, kiai, jajaran pengurus, dan warga NU pada umumnya untuk terus memperkuat ikatan persaudaraan. Ia menekankan pentingnya menjaga kesantunan serta adab dalam menyampaikan perbedaan pendapat di ruang publik.
Selain itu, seluruh proses dinamika organisasi diharapkan tetap berjalan koridornya sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Nahdlatul Ulama yang berlaku.
Artikel Terkait
Lewat Lapangan Hijau, Polres Cianjur Jembatani Kerinduan Suporter dengan Skuad Persib
SMK Pariwisata PHT Cianjur Hadiri Program 'Istana Untuk Anak Sekolah'
Cetak Rekor Dunia, MTQ dan Lomba Dakwah Disabilitas Nasional Berakhir Haru
Mutiara Pagi: Masa Depan Sebuah Bangsa (Bagian 2247)
Disbudpar Cianjur Sebut Kehadiran Anamcara Hotel and Resort Jadi Katalis Baru Kebangkitan Wisata Daerah
Pendaftaran Miss Grand Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Cara Daftarnya
Mutiara Pagi: Hati yang Bersama-Nya (Bagian 2248)
RMI PCNU Cianjur Cetak Santri Mandiri Lewat Pelatihan Pangkas Rambut
Pegadaian Area Purwokerto Gembleng Kemampuan Tenaga Pemasar Emas
Dilema Penegakan UU ITE dan Ancaman Kriminalisasi Berlebih di Ruang Demokrasi