Aktifisme dan Komunitas Muslim US- 2

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 26 September 2024 | 06:09 WIB
Ada 7 anggota sujud yang tidak akan disentuh api neraka (@santrikiyaibaha)
Ada 7 anggota sujud yang tidak akan disentuh api neraka (@santrikiyaibaha)

Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Pada catatan sebelumnya disebutkan bahwa aktifisme adalah ruh beragama. Berbagai bentuk ekspresi tentang aktifisme dapat kita temukan dalam Al-Qur’an. Dari perintah beramal, bergerak, hingga ke perintah dakwah, amar ma’ruf-nahi mungkar dan jihad.

Kali ini saya ingin mengelaborasi secara singkat beberapa tuntunan Al-Qur’an dalam menjalankan aktifisme. Tuntunan ini menjadi sangat penting sebab seringkali atas nama aktifisme dan semangat untuk berhasil menjadikan nilai-nilai moral dan keagamaan terlupakan. Sebaliknya, juga terkadang atas nama agama, keinginan dan semangat untuk berhasil menjadi kendor bahkan pudar.

Khusus di acara Konvensi NABIC kali ini saya saya menyampaikan lima acuan penting bagi setiap aktifis Muslim dalam menjalankan aktifismenya. Kelima acuan atau tuntunan ini saya simpulkan dari sebuah ayat singkat di Surah Toha ayat ke 42.

Allah berfirman: “Berangkatlah engkau (wahai Musa) dan/bersama Saudaramu dengan ayat-ayatKu dan jangan melemah dengan mengingatKu”.

Ayat ini sangat singkat. Namun begitu sarat dengan pesan-pesan khusus kepada nabi Musa AS dalam melakukan dakwahnya, membawa risalah Allah kepada penguasa tiran pada masanya (Fir’aun). Pesan-pesan ini adalah bekal utama setiap pelaku dakwah dan aktifisme dalam masyarakat.

Satu, perintah Allah “berangkatlah engkau (Wahai Musa) adalah perintah untuk bergerak dan pro aktif. Seolah Allah mengatakan jangan duduk melemah, menunggu dan pasif. Masanya untuk bangkit, berjalan, melangkah menuju kepada keberhasilan.

Perintah untuk “pergi” juga menunjukkan dua tempat. Ada “starting point” di mana langkah itu dimulai. Dan ada “destinasi akhir” di mana langkah itu akan berakhir. Fokus perintah bukan pada destinasi akhir.

Tapi pada langkah awal untuk menggerakkan kaki dan melangkah (pergi). Menunjukkan bahwa dalam perjuangan (aktifisme) langkah awal seringkali menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Langkah awal yang dimaksud boleh jadi adalah niat awal. Luruskan niatmu. Tapi boleh juga langkah awal dari perjuangan itu adalah adanya rencana yang baik dan benar.

Apakah ada “planning” (perencanaan) dalam menjalani perjalanan juang (aktifisme) itu. Salah langkah di awal boleh saja mengantar kepada kesia-siaan bahkan kebinasaan.

Dua, ketika Allah pada ayat itu mengatakan “kamu dan saudaramu” (انت واخوك) menunjukkan urgensi kerja-kerja kolektif dalam aktifisme. Musa diperintah untuk berangkat bersama saudaranya (Harun). Karena nabi Harun akan menutupi kekurangan Musa, salah satunya, dalam hal berbicara/komunikasi.

Jika poin ini kita tarik ke dalam dunia realita kita saat ini maka di sinilah pentingnya “kebersamaan” dalam perjuangan. Bukan untuk saling menindih dan berebut.

Tapi untuk saling menutupi dan melengkapi antara satu dan lainnya. Kata “saudara” juga menjadi saudara dalam makna yang lebih luas. Bukan sekedar saudara sedarah. Tapi lebih luas sebagai saudara dalam akidah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X