Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi
Pada catatan sebelumnya disebutkan bahwa aktifisme adalah ruh beragama. Berbagai bentuk ekspresi tentang aktifisme dapat kita temukan dalam Al-Qur’an. Dari perintah beramal, bergerak, hingga ke perintah dakwah, amar ma’ruf-nahi mungkar dan jihad.
Kali ini saya ingin mengelaborasi secara singkat beberapa tuntunan Al-Qur’an dalam menjalankan aktifisme. Tuntunan ini menjadi sangat penting sebab seringkali atas nama aktifisme dan semangat untuk berhasil menjadikan nilai-nilai moral dan keagamaan terlupakan. Sebaliknya, juga terkadang atas nama agama, keinginan dan semangat untuk berhasil menjadi kendor bahkan pudar.
Khusus di acara Konvensi NABIC kali ini saya saya menyampaikan lima acuan penting bagi setiap aktifis Muslim dalam menjalankan aktifismenya. Kelima acuan atau tuntunan ini saya simpulkan dari sebuah ayat singkat di Surah Toha ayat ke 42.
Allah berfirman: “Berangkatlah engkau (wahai Musa) dan/bersama Saudaramu dengan ayat-ayatKu dan jangan melemah dengan mengingatKu”.
Ayat ini sangat singkat. Namun begitu sarat dengan pesan-pesan khusus kepada nabi Musa AS dalam melakukan dakwahnya, membawa risalah Allah kepada penguasa tiran pada masanya (Fir’aun). Pesan-pesan ini adalah bekal utama setiap pelaku dakwah dan aktifisme dalam masyarakat.
Satu, perintah Allah “berangkatlah engkau (Wahai Musa) adalah perintah untuk bergerak dan pro aktif. Seolah Allah mengatakan jangan duduk melemah, menunggu dan pasif. Masanya untuk bangkit, berjalan, melangkah menuju kepada keberhasilan.
Perintah untuk “pergi” juga menunjukkan dua tempat. Ada “starting point” di mana langkah itu dimulai. Dan ada “destinasi akhir” di mana langkah itu akan berakhir. Fokus perintah bukan pada destinasi akhir.
Tapi pada langkah awal untuk menggerakkan kaki dan melangkah (pergi). Menunjukkan bahwa dalam perjuangan (aktifisme) langkah awal seringkali menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Langkah awal yang dimaksud boleh jadi adalah niat awal. Luruskan niatmu. Tapi boleh juga langkah awal dari perjuangan itu adalah adanya rencana yang baik dan benar.
Apakah ada “planning” (perencanaan) dalam menjalani perjalanan juang (aktifisme) itu. Salah langkah di awal boleh saja mengantar kepada kesia-siaan bahkan kebinasaan.
Dua, ketika Allah pada ayat itu mengatakan “kamu dan saudaramu” (انت واخوك) menunjukkan urgensi kerja-kerja kolektif dalam aktifisme. Musa diperintah untuk berangkat bersama saudaranya (Harun). Karena nabi Harun akan menutupi kekurangan Musa, salah satunya, dalam hal berbicara/komunikasi.
Jika poin ini kita tarik ke dalam dunia realita kita saat ini maka di sinilah pentingnya “kebersamaan” dalam perjuangan. Bukan untuk saling menindih dan berebut.
Tapi untuk saling menutupi dan melengkapi antara satu dan lainnya. Kata “saudara” juga menjadi saudara dalam makna yang lebih luas. Bukan sekedar saudara sedarah. Tapi lebih luas sebagai saudara dalam akidah.
Artikel Terkait
Activisme dan Komunitas Muslim di US
Yuk Ikut Kontes Domba Kambing Wijayakusuma Cup
Jelang Laga Kontra MU, Mees Hilgers Akui Tak Gentar
Hari Tani 2024 : Jadikan Petani sebagai Penikmat Pembangunan
Angkutan Tempo Dulu
Masya Allah, SMAN 1 Padalarang Umrahkan Dua Siswa dan Satu Guru
KCIC Salurkan Bantuan untuk Warga di Sekitar Jalur
Mutiara Pagi: Yang Maha Kekal (Bagian 1624)
Rubrik Lentera Muda: Menakar Buruknya Pelayanan Pemda Cianjur, Kinerja Lambat dan Tidak Profesional !
TAP MPR Resmi Dicabut, Nama Baik Gusdur Dipulihkan