Ia hanya mendengar sayup-sayup,
Ayah dibunuh di satu tempat.
Hidup di Beijing,
Baskara menjadi pohon tanpa akar.
Tubuhnya gentayangan di negeri asing.
Tapi jiwanya tertinggal di Indonesia.
Tujuh tahun lamanya,
menunggu tanpa harapan.
Negara yang dikira akan menjemput
malah membuangnya.
Tak tahan menjadi warga tanpa negara,
Baskara pun menjadi warga Swedia.
Tahun 2015,
Baskara pulang,
menjenguk ibu,
juga mencari Ayah yang tak kunjung pulang.
Namun, ia dideportasi.
Dituduh berniat bangkitkan komunisme.
Di masa tua,
duduk di beranda rumah,
di Swedia,
angin menyanyikan lagu keroncong,
yang sering didengarnya saat kecil,
ketika ia digendong ibu.
Langit di atas rumah,
di Swedia,
memancarkan masa silam.
Terbentang sepetak sawah.
Sebagai bocah,
dirinya berlari di sana,
disiram hujan gerimis.
Ia tertawa lepas,
bersama ibu dan Ayah.
Baskara rindu kampung halaman.
Ia rindu Indonesia.
Kini, ombak memeluk abu jasad Baskara.
Mungkin, suatu hari,
angin akan membawanya ke pantai,
ke tanah air yang selalu ia rindukan. ***
Artikel Terkait
Rahasia Bangunan Zaman Belanda Sangat Kokoh
Mutiara Pagi: Yang Maha Pemberi Keadilan (Bagian 1614)
Kiriman Surat Terbuka untuk Peter F Gontha
Cara Mencintai Nabi Muhammad SAW
Jangan Mau Apalagi Bangga dengan Kekalahan, Budayakan Menang
Mengingat Kelahiran Rasulullah SAW-02
Mutiara Pagi: Yang Maha Mengumpulkan (Bagian 1615)
Kompetisi Akademik Penulisan Jurnal
Refleksi Terhadap Peringatan Kelahiran Rasulullah SAW
Ketaatan dan Sikap Kritis kepada Penguasa