Mereka yang Terbuang di Tahun 60-an (1)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 17 September 2024 | 16:00 WIB
Kabupaten Kaimana di Papua Barat ini dijuluki sebagai Kota Senja. (Unsplash.com/Nae Unani)
Kabupaten Kaimana di Papua Barat ini dijuluki sebagai Kota Senja. (Unsplash.com/Nae Unani)

“Ayah, Semoga Abu Jasadmu sampai ke Pantai Indonesia"

Oleh: Denny JA

(Di tahun 2024, seorang gadis melempar abu jasad ayahnya ke laut, sesuai wasiat sang ayah. Meski tubuhnya tak diizinkan pulang akibat prahara politik tahun 1960-an, ia berharap abu jasadnya mencapai pantai Indonesia, tanah kelahirannya.)

“Pergilah, Ayah...
biarlah laut membawa engkau kembali.
Wahai samudra, ibu yang bergelombang,
bawa abu jasad Ayahku ke pantai Indonesia,
ke tanah tempat ia dilahirkan.”

Air matanya jatuh,
bercampur dengan ombak.
Rina, anak gadis Baskara, berdiri
di tepi kapal,
menggenggam abu jasad Ayah,
yang terbungkus kain putih.

Gelombang menjauh membawa abu jasad Ayah.
Anak gadis itu menjadi burung,
terbang menemani abu.

Ini wasiat terakhir Baskara:
“Jika aku tak bisa dikubur di Indonesia,
biarkan abuku yang pulang,
dihempas laut hingga berlabuh
di pantai negeriku.”

Indonesia tempat ia dilahirkan,
tapi ia dilarang dikubur di sana.
Seumur hidup,
Baskara terasing.

Tahun 1965, di Beijing,
Baskara masih muda,
23 tahun, penuh harapan.

Ia dikirim Bung Karno
untuk belajar.
Ilmu pertanian,
sebagai bekal masa depan
untuk tanah airnya. (1)

Namun takdir berkata lain.
Gerakan 30 September pecah.
Baskara terjebak di negeri orang.
Paspor ditahan.
Hak kewarganegaraan dicabut.
Ia bukan lagi orang Indonesia,
meski darahnya,
meski cintanya,
masih melekat pada negeri itu.

"Kenapa mereka mengambil hakku?"
Baskara sering bertanya.
Namun tak ada jawab.
Ia terasing di negeri orang.
Tak bisa kembali.

Teman-temannya yang pulang,
hilang tanpa kabar.
Ia juga mendengar,
jika pulang, ia segera dipenjara dan disiksa.

Dan ayahnya,
dituduh Soekarnois,
kiri, komunis, hilang entah di mana.
Padahal Ayah hanya petani sederhana.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X