Oleh: KH Fahrur Rozi
Sudah hampir dua tahun polemik nasab berjalan semakin liar di berbagai grup WAG dan semakin sulit dinalar, apakah kita teringat suasana menjelang kejatuhan Soeharto?
Ada issu ninja yang membuat kepanikan masyarakat, issu santet, lalu dibentuk laskar Pamswakarsa yg tumbuh bak jamur di siang bolong , rakyat di adu domba, siapa yang bermain di belakang mereka?
Hari ini fenomena itu berulang dengan pola yang hampir sama, ada adu domba nasab, ada laskar jadi jadian yg dibentuk di berbagai kota, sweeping dan kekerasan, siapa yang bermain ? Duit siapa ? Kenapa isssu ini awet bertahan ? Siapa yg menggerakkan di belakangnya ?
Pertanyaan panjang mungkin akan segera terjawab setelah pelantikan presiden, kenapa begitu banyak orang mendadak merasa dirinya paling benar dan mudah mencaci maki orang lain? Seolah-olah permusuhan di dalam Islam dibolehkan. Padahal kehadiran Islam itu sendiri sebenarnya adalah justru untuk menghetikan permusuhan.
Suasana batin saling membenci antar sesama adalah dilarang di dalam Islam, dan kebencian itu menggambarkan bahwa orang yang bersangkutan sedang tidak berpikiran sehat.
Jika seseorang mmbenci kepada orang yang memang benar-benar telah melakukan sesuatu yang merugikan terhadap dirinya mungkin masih wajar.
Akan tetapi kebencian ternyata juga bisa muncul tanpa sebab, saat ini kita melihat bahwa ada seseorang bisa membenci orang lain, kelompok lain tanpa dia dirugikan dan bahkan tanpa diketahui sebabnya terlebih dahulu.
Hanya karena gorengan konten kebencian YouTube dan WAG yang penuh hoax beredar secara massif bisa menjadi alasan seseorang menjadi emosi dan merasa pantas untuk mencaci maki dan membenci.
Kebencian terhadap suku tertentu itu sesungguhnya tidak wajar, bukankah Manusia berasal dari kakek moyang yang satu, diciptakan oleh Tuhan yang satu, dihidupkan pada alam yang satu, dan kelak semuanya akan dipanggil oleh Tuhan yang satu pula.
Semua manusia diperintahkan untuk menysukuri nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya, dianjurkan beriman, dan beramal shaleh, serta menjaga akhlak mulia.
Allah berfirman dalam QS Ali Imran [3]: 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.
Sayangnya perintah Allah yang sedemikian indah itu ternyata diingkari oleh banyak orang. Manusia lebih memilih saling berseteru, menganggap yang lain lebih rendah, mengolok-olok, berkonflik, bertengkar dan percaya dengan berbagai konten editan lalu menyebabkan nya Seca brutal di berbagai platform media sosial.
Mungkin mereka menyangka bahwa ketika berhasil mengecewakan, mengalahkan, dan bahkan membinasakan orang lain, organisasi atau kelompok lain dianggap beruntung.
Artikel Terkait
Paskibraka Lepas Hijab, BPIP Disorot Banyak Pihak
Profil Rizki Juniansyah, Peraih Emas Agkat Besi di Olimpiade Paris 2024
Presidium KAHMI Jabar Wakafkan Rp40 juta untuk Lahan Kantor KAHMI Sukabumi
Kereta Api Perkotaan Jadi Solusi Transportasi
Persahabatan Menunjukkan Karakter Jiwa Seseorang
Menghadapi Pembenci
Mutiara Pagi: Yang Maha Menghitung (Bagian 1586)
Cut Intan Nabila Korban KDRT Armor Toreador, Menangis di Pelukan Sang Ayahanda
Bahlil Lahadalia Diisukan sebagai Calon Tunggal Ketum Partai Golkar, Bahlil: 20 Agustus Kita Lihat !
Perintah Lepas Jilbab Paskibra itu Dungu!